Kumpulan Cerpen Kompas Minggu 2016 (2)

User avatar
helvry
Pecandu Buku
Posts: 200
Joined: Sun Jan 17, 2016 10:22 pm
Location: Bandung
ID BBI: 1301041

Kumpulan Cerpen Kompas Minggu 2016 (2)

Postby helvry » Tue Mar 08, 2016 3:38 pm

Postingan sebelumnya



6. Arwah Kunang-kunang
Rafael Yanuar

Spoiler:
Tak banyak berubah, rupanya. Papan-papan kayu dipenuhi buku bekas, juga aroma kertas tua yang menguar di sepanjang jalur pustaka. Semuanya, masih sama seperti lima belas tahun silam.
Karya Kadek Eko
Karya Kadek Eko

Dekat pintu masuk, aku melihat perempuan muda berambut panjang, sedang menopang dagu sambil sesekali membuka majalah yang dipenuhi resep-resep makanan. Ia teman kecilku. Ingin aku bertukar kabar, bersama melamunkan hari-hari yang berlalu semenjak kepergian itu. Namun, sepertinya ia sudah lupa padaku.

Aku melihat-lihat rak novel dan membolak-balik halaman hanya untuk mencari coretan yang ditinggalkan pemilik lamanya. Kadang aku menemukan secarik puisi yang dituliskan di sampul belakang, bagi nama-nama yang hangat. Kadang kesan dan catatan untuk dikenangkan di kemudian hari, juga kata-kata yang digarisbawahi. Aku menemukan tulisan lamaku di salah satu buku. Aku terkejut bukan karena terharu, tapi karena tak ingat pernah menulisnya, apalagi memilikinya.

Tak ada yang lebih mendamaikan dari cuaca petang yang hening dan suara kipas angin listrik yang berputar di atas kepalaku.Aku pun melangkah, perlahan menilik barisan punggung buku lalu mengambil satu yang paling menarik. Perempuan itu tersenyum dan menyebutkan harga saat aku tiba di kasir. Masih saja berharap, menemukan tanda ia masih ingat padaku. Tapi nihil. Setelah menyerahkan kantung berisi novel, ia tak berkata apapun lagi, selain terima kasih.

Tapi aku tak langsung pulang, melainkan duduk di halte depan toko di samping ibu-ibu yang mengayun bayi mungil dalam buai peluknya sementara tangannya yang lainmembuka-buka lembaran majalah. Sambil menikmati suara lonceng kecil yang bergemirincing ditiup musim penghujan, aku menyandarkan tubuh dan mulai membaca.

Ketika jiwaku larut dalam buai cerita, aku menemukan selembar kertas dengan namaku di dalamnya. Hanya sebaris pesan sederhana, namun cukup membuat dadaku melambung. Kau berutang banyak kisah padaku—begitulah tertulis dengan huruf-huruf yang lembut. Aku pun mengintip ke dalam dan tertawa saat menemukan seorang perempuan sedang menyembunyikan wajahnya di balik buku yang ia pegang.

Manis sekali.

Ketika termangu di depan toko, sembari menanti langit berganti gaun—dari terusan berwarna merah tua, menjadi hitam yang lembut, seperti sebuah pepatah tua yang disembunyikan ingatan, hujan turun tanpa pertanda. Hening. Aku mendengar suara gemerincing pada pintu, yang layu ditidurkan buaian angin.Aku sudah tak memperhatikan lagi buku di tanganku, dan memilih bergeming seperti sebuah batu yang dicintai burung dan serangga—juga udang yang gemar bersembunyi. Sedari dulu aku suka menunggu. Bagiku, menunggu adalah caraku merayakan waktu luang yang tiba-tiba ada, yang bisa aku nikmati tanpa rasa bersalah. Aku suka menciptakan penantianku sendiri dan mengisinya dengan lamunan-lamunan.

Dulu, setiap musim beranjak dan rintik embun mulai berguguran dari ranting-ranting cuaca, kunang-kunang selalu bermunculan di desa ini—”Menyambut kepulangan hujan”, begitulah aku melukiskannya pada salah satu puisiku. Aku selalu percaya, kunang-kunang bukanlah penjelmaan dari kuku orang mati seperti yang diceritakan turun temurun, tetapi mata yang berduka. Berkerumun di padang bambu, sebuah tempat yang senantiasa belia dalam ingatanku, cahayanya menciptakan garis tipis yang menyerupai air mata.

Dalam pelukan masa kecilku, bila kunang-kunang bermunculan aku sering menemukan seorang gadis kecil dengan gaun seputih gading berdiri di belakang bulir-bulir bambu. Matanya lebih mendung dari hujan, dan lebih kelabu dari kesunyian, tetapi empunya ketenangan sedalam sungai. Ia hanya muncul bila kunang-kunang bermekaran di sekitarnya, dan lenyap saat cahaya menjauhinya. Aku tak tahu siapa dia. Tetapi, dialah cinta pertamaku. Aku menemukannya selalu ketika rembulan berhasil menembus kabut-kabut awan. Sebaliknya, ia tak pernah terlihat ketika langit sedang terbuka.

Saat aku menceritakannya pada teman-temanku, mereka mengaku tak melihatnya. Bahkan saat ia berdiri di hadapan kami, malu-malu mengintip dengan tangan berpegang erat pada bambu. Aku selalu berharap kunang-kunang mau bertahan lebih lama di dekatnya—agar ia tak cepat menghilang. Namun, selalu saja ia lenyap sebelum aku puas ’menjumpai’ dia. Teman-temanku bilang aku hanya pandai mengarang cerita atau menciptakan teman khayalan. Dan kini, setelah banyak tahun berjalan, aku mulai mempercayai apa yang mereka katakan dan menganggap gadis itu cuma muslihat ingatan, seperti pula banyak hal lainnya yang perlahan-lahan aku lupakan. Tapi aku juga mengingat ada satu orang yang mempercayaiku. Ia menjuluki gadis itu Arwah Kunang-kunang. Aku suka kata arwah. Aku tidak percaya hantu, tapi aku meyakini arwah. Ia berbeda dengan makhluk gaib lainnya. Aku membayangkan arwah-arwah itu sebagai jiwa yang kesepian. Wujud dari kenangan. Kelak aku mati, aku ingin menjadi arwah sepanjang sisa keabadian, mungkin di dada perempuan yang sabar atau di akar tetumbuhan—yang menjaga pohon tetap hangat meskipun cabang-cabangnya didera dingin dan terik.

Padang bambu itu masih ada di hadapanku sekarang. Begitu pun toko buku yang semenjak bermula ingatan selalu berdiri di sisi lainnya. Malam baru saja menjelang dan hujan masih berkelebat sepanjang mata memandang. Tapi ke manapun mataku mengembara, aku tak lagi menemukan kunang-kunang, hanya lampu kota yang memudar menjadi siluet karena terhalau kabut malam. Aku pun tak terlalu berharap. Sudah berapa tahun kira-kira, semenjak terakhir aku menemuinya—Arwah Kunang-kunang itu? Aku menera-nera dalam hati, namun tak menemukan angka. Aku tak sadar sudah dua jam duduk di sini, punggungku jadi terasa ngilu. Rasanya sudah silam sekali aku tak menikmati hujan dengan demikian sabar.

Tempat ini, yang sedari tadi menemaniku, dulunya ialah halte, tetapi bila sudah pukul 18.00, kau tak kan menemukan kendaraan apapun yang lewat, apalagi bus. Sejak dulu aku selalu senang berada di sini. Bila teman-teman mencariku, mereka pasti menemukanku di sini, dan biasanya berhasil, meskipun seringkali aku lebih suka sendirian.

Mataku masih terpaku pada barisan bambu di seberang jalan—mencari-cari di antara kegelapan. Tanpa diduga, sebuah suara membuyarkan lamunanku. ”Merindunya?” katanya. Tahu-tahu gadis di toko buku sudah berdiri di belakangku.

”Peri? Apa kabar?” Aku gugup. Tentu saja. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir aku menyapanya. Ia mengenakan kemeja putih dan rok hitam, busana yang sangat bersahaja. Namun begitu pantas dikenakan olehnya. Rambut panjangnya—yang berwarna coklat tua, diikat dengan model ekor kuda. Di mataku, ia tak ubahnya gadis remaja yang ranum dan manis meskipun usianya sudah 25.

Ia tersenyum, memamerkan deretan giginya. Aku berusaha tak memandangnya terlalu lama, menahan getaran rindu yang sedari tadi mengusik kalbu.

”Boleh duduk di sini?” tanyanya, memecah keheningan.

Aku merasa bodoh dan langsung mengiyakan.

”Kau tinggal di mana sekarang?” itu suaraku. Meskipun seharusnya, dialah yang menanyakannya, sebab akulah yang lama meninggalkannya.

”Di toko buku,” katanya, sambil melirik ke belakang halte. ”Sedang sepi. Hujan.”

Aku menunduk, tak tahu harus mengatakan apa. Tetapi menyenangkan juga, ketika menyadari masih ada sesuatu yang tak berubah dari kepulangan ini. Setelah bertahun-tahun, ia tetap tinggal di sini, tak pernah di tempat lain. Dulu, selain dia, juga ada neneknya yang mengelola toko buku ini sejak ia masih muda. Sementara orangtuanya telah pergi menduluinya—ibunya meninggal saat melahirkannya, sedangkan ayahnya entah di mana rimbanya. Tempat itu menyediakan berbagai macam buku, baik bekas maupun baru—biasanya disumbangkan dari penduduk desa yang hendak berpindah ke kota, seperti keluargaku. Kondisinya lebih sering sepi daripada ramai. Tapi, selang beberapa hari, biasanya ada pembeli yang datang jauh-jauh untuk menebus buku-buku langka.

”Nenek sudah meninggal lima tahun lalu,” katanya tiba-tiba, seperti bisa membaca pikiranku.

”Maaf,” aku sungguh berduka mendengarnya, membayangkan hari-hari sebatang kara yang ia lalui selama ini. Peri hanya mengibaskan tangan di depan hidungnya, lalu tersenyum, ”Tak apa,”—meskipun sekilas aku melihat matanya berkaca-kaca. Neneknya juga dekat denganku. Ia perempuan tua yang bijaksana, setiap tutur katanya mengandung petuah. Mungkin karena sepanjang hidupnya ia bersahabat dengan buku-buku.

”Kau tahu, aku masih menyimpan buku-buku yang kauserahkan saat kau kecil—sehari sebelum kau pergi. Ketika sepi, aku memajangnya di rak yang mudah terlihat, meskipun aku juga berharap tak ada yang menyadarinya, apalagi tertarik membelinya,” katamu. ”Bertahun-tahun aku menatapnya, bertahun-tahun juga aku mengingatmu.”

Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu tanggapanku, Peri masuk ke toko, meninggalkan bunyi kemerincing yang jernih. Kemudian senyap. Hanya tersisa suara hujan yang semakin deras, juga kabut yang tak jua pupus—mengaburkan pandangan. Seolah-olah di luar sana tak ada apapun selain hujan, yang mengalir dari hulu lembah menuju muara yang tak kukenal namanya. Bila dipikirkan lagi, sejak dulu Peri selalu sendirian, bahkan ketika kami duduk di bangku sekolah dasar. Saat kami kecil, teman-teman memandang ganjil anak-anak yang tak memiliki orang tua. Hal itu diperparah ketika ayahnya menghilang justru saat ia sangat membutuhkannya. Tetapi senyumnya selalu mengembang setiap ada yang menyapanya. Saat pertama mengenalnya, aku tak mengetahui latar belakang keluarganya, sebab aku hanyalah murid pindahan yang kesepian. Tetapi, apapun kondisinya aku benar-benar tak peduli dan tetap ingin berteman dengannya. Mungkin aku satu-satunya sahabatnya kala itu.

Beberapa menit kemudian, Peri datang lagi, membawa semangkuk sup dan teh hangat. ”Piknik!” ia tertawa, lalu duduk di sampingku, memberiku mangkuk yang masih mengepul. ”Kau tetap saja pemalu, seperti dulu. Sebaliknya, aku jadi merasa santai, bila bersamamu,” katanya.

”Aku akan tinggal di sini,” aku membuka mulut, nyaris berbisik sebenarnya. ”Kau sudah bersuami?” Tolol. Tolol. Aku ingin menarik kembali ucapanku itu, tapi telanjur. Peri menatapku bingung. Ia taruh kembali cangkir tehnya di samping tempat duduknya, lalu menutup mulutnya dengan tangan. Dan aku pun mendengar suara yang selama ini kurindukan. Tawanya. Satu menit ia terbahak-bahak. Aku bergeming dengan muka datar sedatar-datarnya. ”Kau mau melamarku?” tanyanya sambil mengusap matanya yang berair. ”Arwah Kunang-kunang, bagaimana?”

Aku jadi ikut tertawa. ”Sungguh? Di antara semua perempuan yang ada di muka bumi ini, kau malah cemburu padanya?”

”Makan dulu,” katanya.

Aku mengambil semangkuk sup yang ia sediakan. Rasanya enak sekali, khas makanan pedesaan yang segar dan hangat. Aku menyantapnya sampai habis. ”Ini makanan terenak yang pernah kumakan,” aku berkata jujur. ”Kau yang memasaknya?”

Ia menatapku dan mengacungkan jempol, mulutnya masih dipenuhi wortel dan kentang. ”Akhirnya tertelan,” katanya. ”Aku suka memasak, nenek yang mengajariku. Kemampuanku lumayan, lho,” lanjutnya. Aku sama sekali tak meragukan kata-katanya. Hujan ini tak kunjung reda, tapi aku tak peduli.

”Kunang-kunang!” ia tiba-tiba menepuk pundakku, ”Di belakang bambu!” Aku langsung menyipitkan mata, mencari arah yang ia tunjuk. Benar, ada lusinan kunang-kunang di seberang kami, banyak sekali. Lebih banyak dari ingatanku, meskipun terhalau lebatnya hujan. Aku tersengat perasaan rindu yang hangat, juga kedamaian, ketika melihat seorang gadis kecil berdiri di antara cahaya, bersembunyi di belakang sebatang bambu. Tersenyum.


7. Dua Pengantin
Okky Madasari


Spoiler:
”Masih jauh?” tanya Badrun tanpa menoleh. Kedua tangannya memeluk tas ransel yang ada di pangkuannya. Kaki kirinya terus bergoyang-goyang tanpa bergeser sedikit pun posisinya.
Karya Putu Sutawijaya
Karya Putu Sutawijaya

”Paling setengah jam lagi,” jawab Rozi sambil menggeser kepalanya mendekati jendela yang terbuka. Ia selonjorkan kursinya ke ruang kosong yang ada di depan jok yang didudukinya.

”Tadi jadi nelepon istrimu?”

”Jadi,” jawab Badrun lagi-lagi tanpa menoleh dan tanpa menggeser tangan dan kakinya sedikit pun. Jawabannya pendek dan terasa enggan. Membuat Rozi salah tingkah dan memilih diam.

Mobil Colt tanpa AC itu terasa kian pengap. Sopir mengeraskan musik dangdut yang sedang ia putar sambil ikut menyanyi dengan suara keras tak peduli ada dua orang penumpang di belakangnya.

”Kamu nggak mau nelepon siapa-siapa?” tanya Badrun kali ini sambil menoleh ke arah Rozi.

”Mau nelepon siapa?” Rozi malah bertanya balik sambil tertawa. ”Nggak punya istri!”

”Ya ibumu tho,” jawab Badrun sambil menatap Rozi. Kaki kirinya masih terus bergoyang.

”Ibuku sudah tua. Sudah pikun. Jangan-jangan juga sudah lupa punya anak bungsu yang namanya Rozi. Saking banyaknya anaknya yang lain,” jawab Rozi sambil terkekeh.

”Memang punya berapa saudara?”

”Tujuh! Aku yang kedelapan. Cuma sisa-sisa ampas. Nggak pernah diurusin juga bisa besar sendiri. Aku hilang juga tidak ada yang nyari. Aku mati juga paling tak ada yang nangisi.” Rozi masih terkekeh. Badrun meliriknya dengan heran.

”Tapi tak lama lagi aku pasti bisa kumpul sama Mamak. Berdua saja. Biar kumanjakan dia dengan apa saja yang ia minta. Biar sadar dia kalau hanya aku yang bisa bikin dia bahagia,” lanjut Rozi. Kata-katanya penuh penekanan. Terlihat ia sangat yakin dengan apa yang sedang ia katakan.

”Kumpul di mana?” Badrun bertanya pelan penuh rasa heran.

”Di surgalah! Di mana lagi? Mamak sudah sangat tua. Paling tak sampai setahun ia sudah menyusulku ke sana.”

Badrun menelan ludahnya. Goyangan kakinya semakin keras. Ia peluk ranselnya semakin erat.

”Istri dan anakku masih lama nyusulnya,” kata Badrun pelan. Lebih menyerupai bisikan pada dirinya sendiri. Tapi Rozi masih bisa mendengarnya.

”Ya bagus. Bisa lebih lama mendoakan kamu. Doa anak untuk bapaknya katanya doa paling manjur.”

”Lha apa orang seperti kita ini juga masih butuh doa?”

”Hehhehheh,” Rozi memainkan suara tawanya. Ia tak menjawab pertanyaan Badrun dan malah memilih untuk mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Mereka berdua diam. Suara sopir yang sedang menyanyi mengikuti lagu yang sedang diputar terdengar semakin jelas.

”Memang bidadarinya secantik apa tho, Zi?” Badrun membuka mulutnya tanpa menoleh ke Rozi.

”Heh?” Kini suara ”heh” dari mulut Rozi bukan lagi suara tawa yang dibuat-buat, melainkan letupan kaget atas pertanyaan Badrun.

”Aku nanya, bidadarinya secantik apa?” Badrun mengulang pertanyaannya lagi-lagi tanpa menengok ke arah Rozi.

”Katanya sih, cuantiiiik banget. Kecantikan yang tak bisa dibayangkan oleh akal kita,” jawab Rozi dengan kalem. Ia tak lagi bicara sambil tertawa atau cengengesan. Matanya beberapa saat dipejamkan, seperti sedang mencari-cari bayangan kecantikan itu dalam kegelapan penglihatannya.

”Kayak Desy Ratnasari?” Badrun kini bertanya sambil memandang Rozi.

”Walah, kalau itu ya jelas lewat jauh!” jawab Rozi sambil memainkan tangannya, seolah ingin memberikan penekanan pada kata lewat jauh yang diucapkannya. ”Agak kearab-araban barangkali ya. Yang matanya lebar, hidung bangir, kulit putih. Aaahh!”

Keduanya mengikik. Seperti sedang menertawakan diri mereka sendiri.

”Kamu sudah pernah kawin, Zi?”

”Sudah dibilang enggak punya istri.”

”Iya, kawin kan enggak perlu punya istri.”

Mereka tertawa kecil bersama.

”Belum pernah, Drun. Enggak ada yang mau sama aku,” jawab Rozi masih sambil tertawa.

Badrun tertawa kecil. ”Pantas kamu sudah mau cepat-cepat ketemu bidadari.”

”Kalau itu betul. Siapa yang tak mau ketemu bidadari!”

Lagi-lagi mereka mengikik bersama. Tawa yang begitu lirih dan tertahan, yang lebih menyerupai suara isakan dibanding suara tawa itu sendiri.

”Nanti akan sesakit apa ya, Zi?”

”Ah, kau ini Drun! Sudah hampir sampai masih pula tanya akan sesakit apa.”

”Sebenarnya aku ini penakut, Zi.”

”Sudah pastilah kita yang memilih jalan ini penakut, Drun. Takut dosa. Takut sama Allah. Juga takut sama hidup.”

”Sudah sempat makan kau tadi, Drun?”

Badrun menggeleng. ”Enggak ada selera. Lapar pun sudah tak terasa.”

”Jangan begitu. Makanan enak mungkin hanya satu-satunya yang layak kita kenang dari dunia yang jahanam ini,” kata Rozi sambil merogoh tas yang ada di samping kakinya. ”Nasi padang!”

”Ini,” katanya sambil menyerahkan satu bungkus pada Rozi. ”Aku tadi beli dua bungkus. Sama-sama pakai rendang, limpa, otak. Pokoknya kita harus makan enak. Biar kita makin bersyukur dan bisa menuntaskan perjuangan kita ini.”

Badrun menerima sebungkus nasi yang diberikan Rozi, tapi ia tak juga membukanya. Rozi tak peduli. Ia makan nasi itu dengan tangannya, begitu lahap seolah tak ada kerisauan sedikit pun di dalam hatinya.

”Di sana nanti enggak ada nasi padang, Zi,” kata Badrun sambil tertawa.

”Kata siapa?” tanya Rozi dengan mulut penuh nasi. ”Apa pun bisa kita dapatkan di sana. Nasi padang, sate kambing, ayam goreng, pizza, semua tinggal tunjuk saja! Gratis!”

”Minum bir boleh enggak di sana?”

”Huahahahaha…!” Rozi tak menjawab selain dengan tawa yang terbahak-bahak. Badrun membalasnya dengan ikut tertawa walaupun dalam hatinya ia benar-benar ingin tahu apakah di tempat yang sedang mereka tuju akan disediakan bir atau tidak.

”Mudah-mudahan tubuhku nanti tetap utuh ya, Zi,” kata Badrun sambil mengusap mukanya.

”Apa bedanya?” tanya Rozi sambil menjulurkan tangannya ke luar jendela, mencucinya dengan air minum dalam botol.

”Ya biar bisa dilihat sama anak istriku.”

”Huahahahahaha…!” Rozi terbahak-bahak. Sangat keras hingga membuat sopir menengok ke belakang. Rozi melambaikan tangannya pada sopir dan berkata, ”Lanjut dangdut!” Sopir itu tersenyum dan kembali lagi sibuk dengan musik yang sedang diputarnya.

”Kok malah tertawa?”

”Ya kamu itu goblok! Harusnya kamu berharap agar tubuh kita itu hancur sehancur-hancurnya. Biar tak ada lagi yang bisa mengenali. Biar tidak ketahuan kita siapa.”

”Aku masih ingin bisa pulang ke anak istriku, Zi. Dimakamkan di dekat mereka.”

”Kamu yakin istrimu masih mau nerima?” kata Rozi dengan nada mengejek. Badrun tak menjawab apa-apa.

”Memang kamu tadi bilang apa ke istrimu?”

”Enggak bilang apa-apa.” Badrun menjawab dengan enggan. Rozi pun memilih diam.

”Sudah hampir sampai,” kata Rozi kemudian sambil melirik jam tangannya.

”Mall-nya ada di depan itu,” kata sopir tanpa menolehkan kepalanya ke belakang. ”Nanti saya turunkan di depan lobi lalu langsung saya tinggal. Ada penumpang lain yang nunggu.”

Rozi mengambil tas yang menyandar di kakinya, memangkunya dan memeluknya sebagaimana yang sejak tadi dilakukan Badrun. Badrun memejamkan matanya. Kaki kirinya masih terus bergoyang, bahkan kini kian keras.

”Bidadarinya nanti langsung jemput kita, Zi?” Badrun bertanya lirih, nyaris berbisik, tanpa membuka matanya.

”Katanya begitu,” jawab Rozi juga dengan lirih.

Mobil berhenti. Musik dangdut masih terus mengalun, tapi sopir itu tak lagi ikut menyanyi. Rozi membuka pintu di sampingnya sambil mengangkat ransel yang dipangkunya. Badrun mengikutinya. Mobil langsung bergerak saat Badrun menutup pintu yang dilewatinya.

Mereka berjalan bersama menuju pintu kaca yang dilewati banyak orang dengan memanggul tas ransel di masing-masing punggung mereka.

”Nanti bidadari yang jemput satu atau dua, Zi?” bisik Badrun tepat di telinga Rozi.

”Sepuluh, Drun,” bisik Rozi. ”Sepuluh bidadari akan menjemput kita.”


8. Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon?
Faisal Oddang


Spoiler:
Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pedoalah yang membangunnya.
Karya Claudia Clara
Karya Claudia Clara

Ketika perang kembali pecah, awal 1947, yang orang-orang temukan tentu saja bukan pohon asam, tetapi kira-kira seperti ini: kami bergerombol digiring seperti kerbau. Kaki tangan kami dikekangi tali dari pilinan daun pandan. Bedil Belanda menuntun dengan moncongnya--dan sesekali mempercepat langkah kami dengan popor yang mendarat di tengkuk atau tulang kering. Kami tahu, beberapa saat lagi hidup kami akan direnggut satu demi satu.

Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka.

”Mereka tiba di Makassar,” suara Rahing tidak pernah secemas itu, ”pasukan tambahan, tambahannya banyak,” susulnya gemetar.

”Siap-siap saja,” kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen--DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.

Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan--dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.

”Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.”

Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang membuat bola mataku terasa hangat; yase'na lefue nakkeda a, yase'na lefue mallefa nakkeda aaa.... Aku mengenang bocah lima tahunku yang gugur lebih awal--dan air mata tidak lagi bisa kucegah membuat lurik di pipiku.

Setelah kabar dari Rahing--susul-menyusul kabar tiba dari anggota laskar yang satu ke anggota laskar yang lainnya. Seperti suara desingan peluru beberapa tahun lalu, kabar duka dari Makassar tak henti-hentinya mendera. Kabar pertama tiba dari Borong dan Batua, keduanya diduga tempat berlindung pemberontak--dan berbagai macam alasan tak masuk akal lainnya. Setelah itu, disusul daerah-daerah lainnya, di Gowa dan Takalar, dan tentu kabar buruk itu tiba tanpa pernah luput mengikutkan jumlah korban jiwa. Sebentar lagi mereka menuju ke sini, begitu laporan salah satu anggota laskar pada suatu malam, di langgar, ketika tidak ada lagi aktivitas mengaji sejak pemerintah Belanda mengeluarkan surat edaran dan pernyataan darurat perang.

”Anak-anak, Bapak akan memanggil kalian lagi kalau waktu mengaji sudah tiba. Sekarang libur jadi kalian belajar di rumah saja dulu, ya....”

Aku mengkhawatirkan mereka dan kecemasanku semakin menjadi-jadi dari hari ke hari. Seperti pelaut yang tak pernah berhenti mencemasi angin limbubu. Rapat kami gelar hampir setiap malam, menjelang Isya, bahkan tak berujung hingga Subuh tiba, rapat bukan sekadar rapat sebenarnya; kami berjaga. Sebagai pimpinan Laskar Bacukikki yang berada di bawah Laskar Andi Makassau sebagai pusat perjuangan rakyat Parepare, akulah yang menyiapkan tempat, dan selalu akulah yang memimpin rapat. Itu menjadi alasanku meminta anak-anak mengaji di rumah mereka, selain karena tidak ingin membahayakannya.

”Kita harus sadar diri, Ustad.”

Hening yang lama, bahkan aku berhasil mendengar desah napasku sendiri. Masih hening, tidak ada yang menimpali apa yang Rahing maksudkan dengan sadar diri, tetapi kemudian ia menjelaskan meski tak seorang pun yang meminta penjelasannya.

”Kita kalah jumlah, kalah senjata, kalah pokoknya....”

Jelas sekali, Rahing tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Ia baru saja menikah, aku tahu karena aku yang menjadi penghulunya, aku juga tahu ia bukan mencemaskan dirinya sendiri. Ada istri--dan barangkali ada janin yang tengah ia khawatirkan. Hal itulah yang membuatku hanya bisa diam dan sesekali mengangguk seperti tekukur mengantuk. Bayangan perjuangan sebelum kemerdekaan, bayangan Fatimah istriku, bocah lima tahunku Akbar, dan ingatan-ingatan lainnya kembali menghangatkan bola mataku. Teriakan tolong Akbar, teriakan Allahu Akbar Fatimah, dan teriakan keduanya setelah granat menghancurkan rumah panggung kami malam itu. Aku dituduh melatih anak-anak menjadi pemberontak hanya karena mengajari mereka mengaji--dan setelah kehilangan segalanya, aku benar-benar memutuskan memberontak, memimpin laskar dan berhasil meraih kemerdekaan. Ketika merasa semuanya telah selesai, aku mengumpulkan kembali anak-anak, mereka kembali mengeja alif-ba-ta, dengan terbata--dan lagi-lagi, kini harus berhenti.

Pertengahan Januari, sebulan setelah kabar dari Rahing, mereka menuju kampung kami. Waktu itu musim hujan baru saja tiba--tetapi tak ada yang berani menggarap sawah. Semua takut meski beberapa yang lain memberanikan diri, termasuk aku. Matahari tidak akan tenggelam selain di ujung langit, begitu pula hidup takkan berakhir selain oleh ajal. Aku meyakinkan diri berkali-kali, menatap biasanku di cermin, mencari-cari kalau sampai ada anggota tubuh yang hilang dalam biasan. Semuanya lengkap, dan begitulah orang Bugis meyakinkan diri sebelum berperang. Janggutku lebat, uban mulai tumbuh di sana, di rambutku juga, meski memang seharusnya lelaki lima puluhan wajar jika beruban. Mataku sangat sayu dan tulang pipiku semakin menonjol, biasan juga menampakkan luka besar di pelipisku, bekas serpihan granat malam itu.

Ya Hayyu, Ya Qayyum--wahai yang maha hidup, wahai yang maha berdiri sendiri, aku mengucapkannya di dalam hati, berkali-kali, sampai aku merasa benar-benar siap. Meski berkali-kali pula terhenti karena batukku yang semakin parah juga rutin mengeluarkan dahak darah. Diriwayatkan, Rasulullah mengucapkannya berkali-kali saat Perang Badar, saat tak tidur semalaman menunggu orang-orang Quraisy.

Pintu digedor keras oleh seseorang yang tampak buru-buru. Benar saja, ketika kubuka, kutemukan Rahing tampak pucat sebelum terbata-bata mengatakan bahwa Si Jagal Dari Turki sudah di perbatasan dan berusaha ditahan oleh laskar, ia kemudian melanjutkannya dengan; saya harus amankan istri saya dulu, Ustad, maaf. Detik pertama setelah kalimatnya selesai, amarahku hampir memuncak. Egois sekali! Namun, sebuah kenangan memaksaku takluk, aku tidak ingin menyampirkan luka yang sama di pundak Rahing.

”Begitu selesai, gabunglah segera,” timpalku hampir berteriak menyusul langkahnya yang tergesa-gesa.

Aku menuju perbatasan bersama lebih kurang dua puluh anggota Laskar Bacukikki lainnya di tengah deras hujan yang belum berhenti dari kemarin sore. Namun, seperti ajal yang tak mampu kami tebak tibanya, keadaan berubah, pertahanan di perbatasan kalah, kami terdesak masuk bersembunyi di rumah-rumah penduduk. Hal itulah yang kusesali. Penduduk yang menampung kami waktu itu juga digiring seperti kerbau ke tengah lapangan ketika sore hampir selesai. Tidak peduli perempuan dan anak-anak, tidak peduli tua dan muda.

Kami berbaris di lapangan dengan lutut menumpu di tanah dan tangan kami dikekang ke belakang. Ratusan orang diam tanpa mampu mengelak apalagi melawan, dadaku seperti pendiangan menyadari semua itu. Seseorang yang tampak sebagai pemimpin DST menuju kerumunan. Ia memerhatikan wajah kami satu per satu dalam remang, siapakah yang tengah ia cari? Aku bertanya-tanya di dalam hati. Tatapannya dingin, ia tidak seperti yang lain; yang menyeringai penuh ejekan kepada kami. Wajahnya hampir tanpa ekspresi. Mungkin.., mungkin, dia yang Rahing sebut sebagai Si Jagal Dari Turki itu? Westerling yang dilaknat Allah? Dadaku semakin panas, namun aku kini seperti burung patah sayap patah paruh. Ia masih menyelidiki wajah kami satu per satu dengan diam. Tangannya memegang Browning P-35 yang sesekali ia gunakan ujungnya untuk mengangkat dagu jika ada dari kami yang menunduk. Tiba-tiba pistol itu meletus, suaranya memekakkan telingaku dan bau mesiu sontak menguar disusul tubuh perempuan rubuh di depanku.

Dia istri pemberontak! Hanya itu yang kutangkap dari bahasa Indonesianya yang kacau-balau lagi pelan. Suasana mulai ricuh, beberapa orang berusaha melarikan diri sebelum tubuh mereka jatuh menimpa tanah dengan darah yang bercampur air hujan. Puluhan nyawa dicampakkan seketika, kurang dari lima menit. Ketika pasukan-pasukan DST itu kembali dapat menenangkan situasi, interogasi berlanjut dan bedil mereka mengantar tubuh-tubuh tak berdosa satu per satu menuju maut. Malam semakin larut ketika hujan bertambah deras, juga petir yang beberapa kali menyambar disertai badai. Hal itu membuat beberapa DST kerepotan, dan tentu saja keadaan kembali ricuh. Di dalam gelap itulah, mereka menembaki kami tanpa iba. Teriakan dan erangan berganti saling sahut, aroma anyir darah menguar bersama mesiu. Besoknya, hujan reda dan ratusan mayat bergelimpangan di tengah lapangan, kecuali tubuhku yang hilang karena aku suci bagi orang di Bacukikki.

”Beginilah Ustad Syamsuri semasa hidupnya. Seperti pohon asam. Buahnya jadi bumbu masak, daunnya jadi sayur, rantingnya jadi kayu bakar, dan batangnya bisa jadi papan atau tiang rumah.”

Air mata Rahing jatuh menyampaikan itu semua kepada warga yang merubut di tengah lapangan, menyaksikan pohon asam yang mulai tumbuh di sana beberapa bulan setelah DST angkat kaki dari Parepare.

”Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya,” lanjut Rahing terisak, ”arwah Ustad Syamsuri di lapangan ini tumbuh jadi pohon asam, pohon yang penuh manfaat. Tubuhnya naik ke langit. Menyesal aku tak syahid bersamanya. Mari berdoa untuk beliau. Alfatiha!”

Sejak hari itu orang-orang berdatangan dan semakin rajin berdoa di sana, hingga sekarang--puluhan tahun kemudian. Padahal, malam itu aku berhasil melarikan diri ke Onderafdeling Wajo dan meninggal di sana karena tuberkulosis yang tidak mampu lagi kulawan. Aku meninggal beberapa saat setelah Jenderal Simon Spoor sebagai pimpinan agresi militer Belanda menghentikan darurat perang di Sulawesi Selatan pada bulan kedua tahun 1947.


9. Mardi
Des Alwi


Spoiler:
Malam semakin larut. Angin dingin yang mulai bertiup semakin menekan mataku. Tetesan air hujan dan guncangan gelombang tidak berhasil menahan kantuk yang sudah menderaku sejak tiga jam lalu. Mardi, kapten merangkap ABK, yang duduk di sudut buritan kapal kayu tua, ukuran 3 x 7 meter, tidak bergerak. Matanya terus menatap kapal bagan, menunggu jaringnya diangkat, tanda cumi sudah terkumpul dan siap untuk dijual.
Karya Bambang Heras
Karya Bambang Heras

Namun tanda itu tidak muncul-muncul. Padahal ini kapal bagan ketiga yang sudah kami tunggu sejak meninggalkan PLTU Ancol tujuh jam lalu. Jika dalam sejam lagi tidak ada cumi, artinya trip mancing alu-alu dengan umpan cumi akan gagal. Istri dan anak-anakku yang selalu menggerutu kalau aku keluar memancing pasti akan meledek habis-habisan, memastikan memancing tidak hanya menghabiskan uang belanja bulanan kami yang memang tidak pernah tersisa, juga waktu.

”Yeaah papa boncoos lagi,” teriak mereka jika aku hanya membawa seperempat cool box ikan. ”Aduuh, mau diapakan ikan sebanyak ini,” sambut istriku jika aku membawa satu cool box dan satu styrofoam ikan dalam jumlah besar dan ukuran monster.

”Cumi makin susah, ikan juga makin jarang,” terdengar Mardi menggerutu pelan membuyarkan lamunanku. Kapten sekaligus pemilik kapal kayu tua yang biasanya irit bicara, mengeluhkan buruknya kualitas air laut Teluk Jakarta penyebab berkurangnya ikan. Menurut dia, ikan seperti manusia memerlukan air bersih untuk bernapas dan berkembang biak. Air laut yang keruh kecoklatan sampai 2 km dari daratan membuat ikan sulit berkembang.

Dulu orang ramai-ramai membuat rumpon dari becak yang ditenggelamkan ke laut agar ikan bisa berkembang biak. ”Sekarang jangankan rumpon, semua orang malah menjadikan laut tempat sampah seluruh Jakarta. Tidak ada lagi yang peduli dengan laut dan kehidupannya,” tandas Mardi.

”Kalau begini terus kita mungkin harus mancing di tengah, bahkan terpaksa harus ke Pabelokan. Dengan kapal kayu tua ini sangat sulit melawan gelombang. Sehari penuh baru bisa sampai ke Pabelokan,” tambahnya.

Pabelokan, tempat persinggahan nelayan seluas 27 hektar di ujung utara deretan kepulauan Seribu, sekarang terkenal sebagai pangkalan offshore dengan beberapa rig yang masih aktif. Bagi pemancing, ini tempat bagus untuk mengasah kemampuan mendapatkan ikan ukuran besar seperti GT (Giant Travelly), tenggiri dan kalau beruntung marlin.

”Kalau mau kita bisa rencanakan trip mancing ke Pabelokan,” aku mengusulkan. Mardi hanya diam. Matanya terus menatap kapal bagan tanpa berkedip. Beberapa kapal terlihat merapat mendekati kapal bagan. Jam sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi. Padahal biasanya jam 23.00 kami sudah mendapatkan cumi, umpan yang disukai alu-alu. Jika kapal bagan tidak mengangkat jaring, dalam setengah jam lagi, artinya kami tidak akan mendapatkan umpan.

Begitu fajar menyingsing, gerombolan alu-alu, akan menghilang. Rencana memancing malam dengan cumi yang bersinar di kedalaman dan menarik alu-alu, akan gagal.

Tiba-tiba Mardi berdiri dan meminta uang untuk membeli umpan. Aku menyerahkan uang seratus ribu untuk umpan dan sisanya cumi buat dibawa pulang. ”Kalau bisa dapat untuk umpan saja sudah bagus bos,” ujar Mardi.

Dengan sigap dia meloncat melewati batang-batang bambu yang melintang, melintasi jaring, dan menghilang di kegelapan dini hari. Lima belas menit kemudian dia muncul menyerahkan kembalian 50 ribu. Ia bergegas melepaskan ikatan kapal dengan kapal bagan dan menghidupkan mesin.Kami segera meluncur menuju spot yang diyakini Mardi tempat berkumpulnya alu-alu.

Seperti sudah diduga tangkapan hari itu tidak terlalu banyak. Mardi hanya berhasil menangkap dua alu-alu ukuran setengah kilo, 2 ekor ikan kuwe dan seekor kerapu karang, sedangkanaku menarik seekor alu-alu ukuran satu kilo dan 2 ekor ikan kuwe. Namun Mardi tidak berkomentar ketika aku menyatakan akan membuka trip Pabelokan. Dia juga tidak menanggapi sms-ku yang menginfokan trip Pabelokan sudah dibuka di berbagai milis mancing.

Namun tidak banyak yang menanggapi undangan trip Pabelokanku. Satu menyarankan aku membatalkan trip yang cukup berbahaya untuk kapal tua seperti punya Mardi. Namun ada juga yang mendukung tanpa harus ikut, dengan menjanjikan bantuan umpan, bahan makanan dan solar. Menurut mereka, risiko pakai kapal tua sangat besar karena harus membawa solar dalam jumlah besar. Di samping itu, cuaca di sekitar Pabelokan sulit diprediksi. Hujan dan badai suka datang tiba-tiba.

Tidak heran, sebulan setelah undangan trip Pabelokan diposting, tidak satu pun anglers yang menunjukkan minat ikut. Ketika bertemu Mardi dan menanyakan apakah dia masih berniat memancing ke Pabelokan, Mardi hanya bertanya singkat: ”Kapan? Makin lama cuaca makin berbahaya. Kalau serius harus bulan depan paling telat,” katanya.

Aku memastikan trip Pabelokan bulan depan, dengan atau tanpa ada angler lain. Persiapan terus dilakukan termasuk menyiapkan stok solar yang mencapai 2 ton. Beberapa teman mengumpulkan bahan makanan. Dua hari menjelang keberangkatan semua peralatan sudah dimuat di kapal Mardi.

Tanpa upacara dan di tengah gigitan mentari, kami perlahan meninggalkan dermaga PLTU. Tidak ada lambaian yang terlihat. Istriku yang mengantar telah lama meninggalkan dermaga. Ia langsung pergi begitu barang terakhir dikeluarkan dari bagasi mobil. Angin sore mendorong kapal melaju menerobos gelombang. Deretan pulau-pulau, mulai dari Pulau Bidadari sampai ke Pulau Macan, untuk menuju Pabelokan pelan-pelan menghilang.

Saat gelap pekat mulai menyelimuti Mardi bergumam, ”Untung Jawa.”

Untuk kapal sekelas punya Mardi bisa melewati Untung Jawa yang penuh kerlipan lampu dalam 4 jam sudah sangat lumayan. Perjalanan tinggal melewati empat kelurahan lagi. Kelurahan paling ujung yang masuk dalam Kecamatan Kepulauan Seribu Utara adalah Pulau Harapan. Paling cepat kapal Mardi sampai ke Pabelokan pukul dua siang besok.

”Tidur saja bos,” suara berat Mardi memecah kesunyian dan membuyarkan lamunanku. ”Mumpung cuaca bagus,” tambahnya. Tanpa menjawab aku meluruskan kaki menggunakan ransel sebagai bantal, dan tak lama aku pulas.

Byur, siraman air laut dan empasan gelombang tiba-tiba membangunkan aku dari tidur panjang melelahkan. Sedikit gelagapan aku melihat berkeliling. Mardi terlihat bekerja keras mengendalikan kapal yang diguncang gelombang, Tidak ada kata keluar dari mulutnya. Gelombang setinggi satu setengah meter mengempaskan kapal dengan guncangan yang memporak-porandakan perut dan isi kapal.Aku merangkak memegang dan mempertahankan boks berisi peralatan pancing dan umpan. Hujan dan angin kencang serta petir dan kilat yang sambung menyambung semakin menekan perasaan. Setiap empasan gelombang seakan menelan kapal dan semua harapan ke dasar laut.

Entah berapa lama aku menelungkup, komat-kamit melafazkan doa, memohon keselamatan sampai akhirnya hujan, petir dan kilat mulai mereda.

Mentari pagi menyeruak perlahan. Semilir angin tidak hanya menenteramkan hati juga mendorong untuk melempar pancing. Mardi sudah mulai melempar joran dan wajahnya tidak mengesankan kami baru saja lepas dari terkaman gelombang dan hujan petir. Aku menyiapkan peralatan dan melempar pancing mencoba peruntungan pagi.

Seperti perputaran nasib, pagi itu kami tidak henti-hentinya strike. Berbagai jenis ikan seperti kakap merah, kerapu, ikan kuwe dan bahkan tenggiri masuk cool box. Alam memperlihatkan kemurahannya. Jam 10.00 kami sudah sangat kelelahan. Mardi mereguk kopi dan kami menyantap nasi bungkus yang disiapkan untuk sarapan pagi. ”Kalau cuaca terus seperti ini jam 14.00 kita akan sampai di Pabelokan,” Mardi menjelaskan, sambil bersiap-siap mengangkat jangkar.

Diiring angin kami meluncur menuju Pabelokan. Teriknya mentari seakan menambah kecepatan kapal. Jika cuaca terus bersahabat, setidaknya sebelum gelap kami akan mencapai Pabelokan dan besok siang kami berkesempatan menjajal kemampuan memancing berbagai ikan monster.

Angin dan gelombang kembali membesar ketika kapal melewati Pulau Pelangi. Mardi meminta aku memakai lifevest dan ia menggulung layar.Tetesan hujan mulai membasahi kapal. Awan gelap menutup pemandangan. Empasan gelombang semakin mengguncang kapal. Kilat dan petir sambung-menyambung. Hujan tidak hanya membasahi, juga menggenangi kapal seluas 21 m2 itu. Air laut masuk ketika hantaman gelombang menerjang. Mardi tidak bereaksi ketika aku mulai menimba air. Entah sudah berapa lama aku menimba, tapi volume air semakin membesar. Mardi berteriak agar aku mempererat lifevest dan berpegangan pada cool box.

Tapi suaranya hilang ditelan petir yang menyambar tiang layar yang patah dua. Kapal tiba-tiba terangkat diterjang ombak setinggi lima meter, dan badanku melayang seperti diterbangkan ke udara, terus meluncur ke dalam laut yang serasa menghantam lantai salju. Separuh sadar aku berusaha menggerakkan tangan dan kaki. Tapi pusaran laut menarikku semakin dalam. Namun lifevest yang kukenakan menahan tarikan arus laut.

Tarik-menarik pusaran laut dan lifevest yang mengembang semakin membuat aku kesulitan bernapas. Entah karena dorongan ingin menghirup udara, tiba-tiba seluruh badanku mengentak dan seperti anak panah aku meluncur ke permukaan. Namun hantaman gelombang kembali mengempaskan aku ke dalam pusaran laut yang rasanya membelit kedua kakiku. Kepala dan badanku serasa ditekuk dua, menerima hantaman gelombang, dan tarikan arus bawah laut. Napasku hilang dengan air laut yang memenuhi hidungku. Separuh tidak sadar aku menggerakkan badan dan mencoba meraih apa pun yang bisa menarik ke permukaan. Tapi pusaran arus kembali menarikku ke bawah. Dengan air laut memenuhi hidung, dan tenaga yang sudahhampir habis, aku merasa sudah di batas kehidupan. Dalam perjuangan terakhir mengambil napas, aku menutup mata dan meluruskan badan dengan tangan terus menggapai-gapai apa yang bisa terjangkau.

Upps, tanganku serasa menyentuh sesuatu, dan langsung mencengkeramnya. Setelah berkali-kali menggapai, aku akhirnya berhasil naik ke permukaan, sambil terus berpegangan pada sesuatu, yang ternyata terpal dan masih terikat kukuh pada tiang kapal. Dengan merangkak aku melingkarkan tangan berpegangan pada tiang kapal dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.

Lapat-lapat aku mendengar suara dan merasa ada yang memegang tanganku. Dengan mata masih tertutup aku mencengkeram erat tangan yang seolah-olah menarikku ke permukaan. Separuh sadar aku berteriak ”Mardi, Mardi.” Dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak tahu entah sudah berapa lama ketiduran, dan ketika membuka mata aku melihat istriku yang tersenyum lebar dan dokter yang memegang nadiku sambil berkata, ”Tidak ada yang serius hanya perlu istirahat akibat dehidrasi.”

Istriku langsung memelukku dan menangis sesegukan. Tidak ada kata yang keluar. Aku juga sangat lemas untuk memulai percakapan. Kami hanya berpandangan, sampai dokter datang dan menyatakan aku boleh pulang. Menurut istriku, aku ditemukan terapung di tiang kapal diselamatkan oleh sebuah kapal pancing dan langsung dibawa ke rumah sakit. Tidak ada penjelasan mengenai Mardi dan lainnya karena kapal langsung ke darat karena cuaca masih buruk.

Sesampai di rumah, sudah banyak orang menunggu, termasuk Ketua RT yang langsung memperkenalkan seorang ibu dengan dua anak sebagai istri Mardi. Si ibu bernama Nia langsung menangis dan meminta penjelasan apa yang terjadi dan mengapa suaminya tidak diketemukan. Aku tidak menjawab. Mulut dan pikiranku penuh dengan berbagai rasa. Tapi tidak ada kata yang keluar. Istriku langsung menggandeng Nia dan membawa kedua anaknya ke dalam.

Di dalam, tangis Nia meledak, ”Mardi satu-satunya tulang punggung kehidupan kami,” isaknya tertahan. Istriku memeluk Nia dan menjanjikan akan menanggung biaya sekolah anak-anak Mardi serta mencarikan pekerjaan untuk dia.

Rumah kami kembali sepi, setelah Nia pergi diantar istriku, dan tetangga serta Ketua RT pulang. Perlahan aku membuka jaket mancing dan meraba saku dalamnya. Ternyata hp-ku yang terbungkus plastik masih utuh. Ketika dihidupkan, berderet sms berisi pesan dan pertanyaan apakah aku dan Mardi selamat dari badai yang menghantam Pabelokan.

Tiba-tiba masuk sms dari Mardi: ”Terima kasih bos.” Terperanjat, aku langsung menelepon, tapi tidak ada jawaban, hanya bunyi ”tut tut tut” dan hilang. Sms ku juga tidak ditanggapi. Suasana hening rumahku terasa mencekam. Untung tidak lama kemudian istriku datang. Ketika kuceritakan ada sms dari Mardi wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. Aku segera membuka hp dan mencari sms Mardi. Tapi sms-nya hilang. Istriku meminta aku segera istirahat dan bergumam, ”Halusinasi sering terjadi kalau mengalami dehidrasi.”

Entah karena masih terkena efek dehidrasi, kepalaku terasa berputar. Kosong. Tapi tidak lama hp-ku terdengar berdering dan Mardi dengan suara beratnya menyatakan ia selamat dan sekarang bekerja jadi petugas kontrol pembangkit listrik perusahaan minyak yang beroperasi di Pabelokan. Ia menyatakan tidak akan pulang dan meminta aku menjaga Nia dan kedua anaknya, ”tolong jaga keluarga ane bos,” pintanya. Aku hanya tersenyum mengiyakan.

Tiba-tiba istriku masuk dan menanyakan aku tersenyum-senyum dan bicara dengan siapa. Ketika aku menyatakan baru saja bicara dengan Mardi ditelepon, istriku menyerahkan hp-ku, sambil berkata: ”hpnya tadi ketinggalan di ruangan tamu,” dan ”sekarang istirahat saja,” tambahnya.

Aku tidak menjawab. Kepalaku terasa berputar dan keheningan rumahku terasa semakin mencekam.


10. Asmara dan Kematian di Perbatasan Tiga Negara
MARTIN ALEIDA

Spoiler:
Dreilandpunkt. Drielandpunt. Aux Trois Bornes.” Dengan lafal yang ganjil, aku terbata-bata membacakan kata-kata yang terpatri di semacam koin berbentuk lonjong yang ditemukan cucuku.


Membolak-balik benda pipih yang terbuat dari perunggu itu, kubujuk dia: ”Ini bukan mata uang, sayang. Atok peroleh dengan memasukkan uang logam sungguhan ke dalam sebuah mesin mekanik. Memutar engkolnya. Dan keluarlah tanda mata ini. Oleh-oleh untukmu dari titik pertemuan batas negara antara Jerman, Belanda, dan Belgia, yang masih terselip di sakuku.”

Mesin tandamata itu terletak di bawah. Di kaki sebuah menara yang menjulang tinggi seperti hendak menyundul angkasa musim gugur yang malas. Di sekeliling, nun di bawah sana, terhampar hutan berwarna-warni seperti permadani yang baru dibentangkan jauh dan berdesakan berlomba hendak mencium kaki langit. Daun-daun berubah warna menahan dinginnya cuaca dan sapuan angin benua yang kering membekukan. Kuning, kecoklatan, juga merah. Ditingkahi pucuk-pucuk cemara yang tetap hijau. Ya, hanya cemara yang bertahan terhadap bengisnya musim, yang mengisyaratkan Natal akan abadi. Tak terkalahkan. Dan dia rela menyerahkan diri siap untuk ditebang kaum yang merayakannya. Diterpa angin, hamparan hutan berwarna-warni itu terkadang berubah menjadi lautan dengan gelombang yang bergulung-gulung merindukan tepian untuk merebahkan diri.

Ah, sedapnya duduk-duduk di sini sambil menatap kejauhan. Berkaca pada masa lalu. Suhu beberapa langkah di bawah titik beku, tapi fantasi tetap semarak. Di bawah, di kaki menara, daun-daun kuning mengering, rontok, dan dipermainkan angin. Kandas di tanah di mana sebuah tonggak batas tiga negara ditancapkan. Tonggak itu menjadi saksi bagi kekuatan cinta. Antara aku dan istriku. Dan bahwa cinta itu melebihi kesadaran kami terhadap tanah air, di mana sebuah kekuasaan sedang melancarkan teror terhadap warganya sendiri, menyusul bencana politik setengah abad lalu, yang menyebabkan ratusan ribu dibunuh, sementara kami yang sedang berada di luar negeri tak bisa pulang. Kecuali mau mati. Atau paling tidak siap dipenjarakan.

Dalam jumlah ratusan, kami gentayangan di negara-negara Eropa, tanpa paspor. Sakit hati, memang, kalau dikenang. Sebab anjing-anjing saja di daratan jauh ini mengantongi sertifikat. Namun, cinta tidak membutuhkan secarik kertas. Dia hanya memanggil-manggil keteguhan hati.

Adalah dua orang pemuda Jepang yang tak takut mati untuk kesetiaan pada persaudaraan dengan orang-orang yang terbuang seperti kami. Mereka pelesir dan menyamar sebagai back-packers untuk mencari perbatasan yang aman untuk menyeberang bagi orang-orang seperti kami dari satu negara ke negara lain di Eropa ini. Dan mereka menemukan titik temu dari perbatasan tiga negara ini.

Dengan bekal seadanya, aku dan istriku merapat ke Aachen, kota Jerman yang cuma sepelemparan batu ke perbatasan ini. Berpura-pura sebagai pengantin baru yang sedang berbulan madu, beberapa kali kami ke sini, duduk-duduk di bangku malas untuk mengenalinya dengan saksama. Ya, kami harus mengenalinya sama seperti kami mengenal kulit dan bulu roma kami sendiri dengan baik. Kalau perlu mengambil sekepal tanahnya yang berpasir, menjilat dan menciuminya untuk mengingat aromanya. Juga batang pepohonan dan daun-daun. Karena yang kami rencanakan adalah pertaruhan antara tertangkap dan kebahagiaan manusia yang memiliki sebuah kewarganegaraan.

Hutannya tidaklah selebat dan seganas hutan Nantalu di kampungku, tak jauh dari Sungai Asahan. Jauh lebih ramah. Renggang. Lebih tepat seperti hutan karet, kelihatannya. Mudah menyelinap di antara pepohonannya yang muda. Ramah pula.

Aku dan istri lahir ketika Belanda belum mengakui Republik. Jadi, kalau kami mengajukan permohonan kewarganegaraan di negara itu, tentulah lebih besar kemungkinannya diterima daripada mereka yang datang dari wilayah non-koloni Kerajaan Belanda. Paling tidak begitulah pikiran kami.

Pada suatu hari, yang sampai detik ini, kenangannya masih melekat kuat dalam ingatanku, kami berdiri lagi di perbatasan ini. Menjelang turunnya gelap. Daun-daun yang rontok sudah tak tampak. Untuk yang terakhir kali. Kami harus melangkah ke hutan kecil di bagian wilayah Belanda dalam keadaan bersih. Dengan jantung berdebar kuat-kuat dan hati yang diperteguh. Tak secarik kertas pun boleh tinggal di badan kami. Sebab kalau tertangkap, kami pasti dihukum, mujur kalau hanya ditendang kembali ke Jerman.

Aku meminta istriku untuk menyerahkan kertas-kertas yang ada di dompetnya. Melarang dia untuk menyobek-nyobeknya sekalipun sampai sudah menjadi remah. Sebab ceceran sobekan kertas itu bisa ditemukan kembali, dan bisa dibaca lagi. Sambil berdiri, kertas itu mula-mula memang kusobek juga sampai sekecil-kecilnya. Selumat-lumatnya. Tentu saja tidak untuk kubuang ke tempat sampah. Tapi, kukunyah di dalam mulutku. Bercampur dengan liur, gumpalan kertas itu terasa asin dan hambar di rongga mulutku. Kutelan! Ya, kutelan…! Dan kudorong dengan setenggak air. Dan dengan langkah pasti, namun dengan hati memikul beban pertaruhan, kami menyuruk di antara pepohonan dan semak-belukar dan kami masuk menginjakkan kaki yang gemetaran di tanah Ratu Wilhelmina.

Orang-orang yang terbuang, yang tak bisa pulang, dihadang senjata dan penjara, seperti aku ini masih muda-muda pada waktu itu. Romantisme ada di mana-mana, tidak hanya di taman-taman kota, atau mal. Juga tidak dalam keterasingan yang tidak pernah kami bayangkan. Asmara tidak mengenal penderitaan. Dia malah melampauinya. Seperti aku, sejumlah kawan lain memutuskan nikah dengan cara kami sendiri, tanpa tuan kadi, tanpa sesiapa, kecuali kami berdua.

Asmara. Apalagi dalam pengasingan. Siapa yang kuasa membendungnya? Konon pula hanya sebuah tonggak perbatasan. Kisahnya begini. Seorang perempuan. Belum tiga puluh usianya. Junjungan jiwanya berada di sebuah kota kecil di utara Jerman, sementara dia tinggal di sebuah kota kecil terpencil di Belanda. Dia berketetapan hati untuk menyongsong sang kekasih dengan menyeberang di titik perbatasan tiga negara ini.

Mengendap-endap, suatu sore, dia melangkahi apa yang dia kira perbatasan, dan yakin dia sudah menginjakkan kakinya yang molek di negeri Schiller. Dia keluar dari belukar dan begitu bahagia sudah merasa di seberang, dan dia rasanya akan segera mencari alat angkutan, menumpang bus menuju Jerman utara. Tiba-tiba dua orang polisi Belanda mencegatnya. Karena ternyata dia tersesat, dan kembali berada di wilayah Belanda. Tapi, pelarian, apalagi yang jadi korban dari satu kekuasaan yang tak punya hati, membuat manusia menjadi cerdas tak terduga. Perempuan kita itu menyatakan dia tidak berniat melanggar hukum. Dia telah dipermainkan oleh asmara, katanya.

”Saya kemari dengan pacar saya tadi. Kami bertengkar dan dia meninggalkan saya. Saya tidak berniat jahat, Tuan….”

Tentulah hatinya bersorak setinggi langit ketika sepasang polisi tadi membiarkannya melenggang pergi. Mereka sangka dia memang hanya seorang perempuan yang disia-siakan oleh asmara. Mengarungi gelap malam, perempuan itu harus kembali ke rumahnya sendiri. Tetap terpisah dari junjungan hatinya. Sampai kapan, maaf, aku tak tahu. Namun, ada kawan yang bercerita pernah melihat dia, berpasangan dengan lelaki Indonesia juga, sedang menikmati konser gratis selepas makan siang hari Selasa di Berliner Symphony. Syukurlah.

Titik-temu tiga negara ini sungguh berpahala bagi kami kaum yang tak bisa pulang, yang disingkirkan, yang dibiarkan melata mencari daratan tempat perlindung. Untuk merawat kehidupan yang sesungguhnya tidak diciptakan untuk menemukan akhir dalam kesengsaraan. Cuma untuk mati tapal batas ini tiada gunanya. Karena tak seorang pun di antara kami yang tahu di mana bisa ditemukan batas antara hidup dan mati. Pasukan berani mati seperti apa pun takkan mungkin bisa membantu kami menemukan jalan pelarian dari kematian. Kami harus menemukannya sendiri-sendiri. Menghadapinya sendiri-sendiri, bagaimanapun melambungnya cinta antara aku dan istriku. Tak bisa memilih. Satu kenyataan yang getir, yang tak bisa kuelakkan. Tak ada yang ingin dikubur di daratan yang jauh ini. Semua ingin mati di tanah air, angan-angan yang sulit ditampik kalau usia sudah uzur. Ada yang memutuskan menutup premi asuransi untuk mati secara Islam maupun Kristen. Sebab dengan jalan itu setidak-tidaknya kami bisa mati dengan baik-baik, beriring doa. Kematian yang tidak bisa kami bayangkan lima puluh tahun yang lalu, manakala kekuasaan yang zalim membiarkan kalau bukan mendorong para jagal untuk menebas batang leher kami. Cuma sedikit di antara kami yang meninggalkan agama nenek-moyang dan memutuskan untuk dikremasi dan abunya diterbangkan pulang dan dilarung di tanah tumpah darah dan di kota-kota Eropa di mana kami pernah berlindung di kaki langitnya, bertahan hidup.

”Maaf, Atok sendiri ingin menemukan kematian dengan jalan yang mana?”

Daguku menggantung dibuatnya. Mulutku yang tua cuma bisa ternganga seperti mengundang air liur. Otakku mandek. Begitu bodohnya si tua ini. Jari-jariku bergetar menahan debar jantungku yang seperti kena tonjok pertanyaan cucuku ini. Aku cuma bisa berdiam diri. Aku tak tahu apakah pelupuk mataku hangat oleh bulir airmata karena pertanyaannya yang tajam itu. Aku hanya ingat izin tinggalku di Indonesia akan berakhir tiga hari lagi.

Catatan:

Atok = Kakek

MARTIN ALEIDA,
Lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 1943, menerima penghargaan Kesetiaan Berkarya ”Kompas” (2013), Anugerah Seni Kementerian P&K (2014), dosen luar biasa bahasa dan sastra di Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta
Helvry Sinaga | http://blogbukuhelvry.blogspot.co.id
Powered by Don't worry
User avatar
wardah
Posts: 38
Joined: Thu Jan 28, 2016 8:19 pm
ID BBI: 1502274

Re: Kumpulan Cerpen Kompas Minggu 2016 (2)

Postby wardah » Tue Mar 22, 2016 11:30 am

Wah makasih Bang Epi!

Eh tapi aku heran kenapa post-nya dipisah? :?:
BBI 1502274
Blog | Twitter | Instagram
User avatar
helvry
Pecandu Buku
Posts: 200
Joined: Sun Jan 17, 2016 10:22 pm
Location: Bandung
ID BBI: 1301041

Re: Kumpulan Cerpen Kompas Minggu 2016 (2)

Postby helvry » Tue Mar 29, 2016 3:21 pm

wardah wrote:Wah makasih Bang Epi!

Eh tapi aku heran kenapa post-nya dipisah? :?:


Nanti aku rapikan lagi model penyajian di forum ya,,biar enak dibaca dan diarsipkan :)
Helvry Sinaga | http://blogbukuhelvry.blogspot.co.id
Powered by Don't worry

Return to “Puisi, Drama/Teater & Cerpen”

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests