Page 1 of 2

Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Wed Mar 09, 2016 1:43 pm
by desty
[disadur langsung dari blog-nya Dee Lestari http://deelestari.com/serialsurel-sebut ... tau-perlu/ ]

Saya Raudha. Saya sering membaca novel, khususnya yang bergenre metropop. Di sana, biasanya ada banyak merek yang dicantumkan. Apakah genre metropop harus seperti itu? Bagaimana pandangan Mbak terhadap novel-novel tersebut?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca tweet Mbak Dee yang mengatakan bahwa Mbak Dee tidak mau menggambarkan karakter-karakter tokoh di dalam novel dengan cara menyebutkan merek-merek tertentu. Pertanyaan saya, bisakah Mbak Dee memberikan penjelasan mengapa penggambaran karakter dengan menyebutkan merek itu tidak baik?


Hai Raudha,

Pertanyaan kamu membuat saya mencari cuitan lama saya. Ini yang saya temukan:

Mencekoki dengan merek barang, kecuali kalau ada tujuan spesifik yang mendukung cerita (atau disponsori?), better not.

Saya perlu cerita mengapa saya sampai terpicu menulis cuitan tersebut. Awalnya, saya iseng membuka sebuah majalah perempuan dan menemukan tulisan yang tampaknya seperti cerpen. Cerpen itu menceritakan seorang perempuan muda yang memulai harinya dan bagaimana ia menjalankan aktivitas kesehariannya. Tidak ada grafik dramatis, twist, bahkan nyaris tak berstruktur. Cerita itu hanya mengisahkan bagaimana perempuan itu menggeliat pada pagi hari di tempat tidur berlapis seprai bermerek A, lalu mengganti lingerie-nya yang bermerek B ke pakaian merek C, tak lupa detail merek sabun C, sampo D, minyak wangi E, produk perias wajah F.

Lalu, ia berkendara dengan mobil merek G, pergi ke kafe H, makan makanan I, minuman J, mendengarkan musik K, jalan-jalan ke mal lalu melihat-lihat produk L sampai Z. Awalnya, saya sempat kaget. Bagaimana mungkin cerita seperti itu bisa lolos seleksi redaksi? Tapi, setelah saya lihat-lihat lagi, sepertinya cerita tersebut memang bukan untuk berkisah, melainkan beriklan.

Saya bukan pembaca metropop secara khusus. Jadi, saya tidak bisa menilai apakah penyebutan merek menjadi karakteristik genre-genre tertentu. Saya juga bukan anti penyebutan merek. Dalam cerita-cerita saya, sesekali saya menyebutkan merek. Entah itu merek mobil, kamera, atau makanan.

Yang sebetulnya perlu dicermati adalah: kapan penyebutan merek benar-benar dibutuhkan dan apa tujuannya? Sebagai contoh:

"Tiara menyampirkan tas Bottega Venetta edisi terbatas tahun 1980 yang dibelinya dari seorang kolektor di Vicenza."

Apa yang bisa kita dapatkan dari deskripsi di atas? Tiara kemungkinan besar orang kaya, berselera tinggi, kolektor.

Bandingkan dengan ini:

"Tiara menyampirkan tas kulit cokelat berpola anyaman yang terlihat melentur dan melegam oleh usia."

Apa yang bisa kita dapatkan dari deskripsi di atas? Wujud. Tekstur. Warna.

Jadi, mana yang lebih baik? A atau B?

Menurut saya, tidak ada jawaban yang salah dan benar. Persoalannya juga bukan lebih baik atau tidak. Yang ada hanyalah kebutuhan. Dan, mungkin juga selera. Mana yang Anda butuhkan untuk membangun cerita? Mana yang Anda butuhkan untuk menggambarkan karakter?

Saya pribadi lebih senang mengandalkan deskripsi indrawi. Namun, tidak berarti penyebutan merek tidak baik. Terkadang, menyebutkan merek bisa menjadi cara yang efektif. Seperti contoh A tadi, sebuah merek bisa mengungkap banyak hal tentang karakter. Namun, merek belum tentu bisa mengungkap perwujudan sebuah benda secara indrawi sebagaimana yang diungkap contoh B.

Hal berikutnya yang perlu kita cermati adalah: apakah penyebutan merek menjadi jalan pintas untuk mengompensasi kurangnya kemampuan mendeskripsi, atau merek menjadi detail mutlak yang dibutuhkan cerita?

Saya pernah membaca sebuah fiksi yang kurang lebih menggambarkan karakternya seperti ini:

"Tiara mematut dirinya di cermin. Kedua pintu lemarinya terbuka dan baju-bajunya berserakan di kasur. Setelah mencoba berbagai baju dan mematut diri berkali-kali, Tiara akhirnya memilih jins Levi’s low-rise dengan sobekan di lutut, kemeja Zara warna putih yang ia gulung sampai lengan, sebuah kalung manik-manik dari Bin House yang ia beli minggu lalu. Tiara lalu menyambar pashmina Marks & Spencer warna ungu kesayangannya, memadukannya dengan sepasang pump shoes Jimmy Choo berwarna oranye."

Deskripsi di atas melibatkan banyak merk. Tepat atau tidaknya kembali bergantung kepada tujuan (dan selera) si penulis. Apa yang penulis berusaha capai dengan menyebutkan berbagai merek itu? Mungkin, ia mencoba mengajak pembacanya, yang kemungkinan besar familier dengan merek-merek tersebut, untuk mengidentifikasi siapa Tiara. Melalui merek-merek yang mewakili kepribadian dan gaya hidup tertentu, pembaca diharapkan bisa mengenal Tiara dengan lebih baik, dan mudah ditempatkan dalam konteks kehidupan pembaca.

Saya, tentu punya preferensi dan cara sendiri. Baik sebagai penulis maupun sebagai pembaca. Sebagai pembaca, saya tidak butuh tahu Tiara pakai jins merek apa atau kalung desainer siapa. Saya lebih tertarik untuk tahu hal lain, seperti kenapa Tiara berdandan sebegitu lama? Apa yang menantinya? Siapa yang akan ia temui? But, hey, that’s me. Ada juga tipe pembaca yang malah senang, bahkan menantikan detail merek karena ia bisa ikut mendandani karakter di benaknya dengan potongan-potongan citra dari majalah atau iklan seperti sensasi window shopping. Tidak salah juga. It can be fun.

Sebagai penulis, pertimbangan saya akan bergantung kepada fokus dan kebutuhan cerita. Deskripsi, pada umumnya, melambatkan tempo cerita. Jadi, pertimbangan utama saya adalah bagaimana mendeskripsikan sesuatu secara efisien, efektif, dan hidup. Saya pribadi kemungkinan besar tidak akan memilih penyebutan merek secara beruntun seperti contoh C. Mengapa?

Pertama, pada contoh C, saya merasa penulislah yang menuntun pembaca, bukan karakter. Saya bisa merasakan bagaimana Tiara dijadikan manekin oleh penulis yang mendandaninya dengan preferensi fashion dan merek yang ia pikir cocok untuk Tiara (you may have different impression). Sementara, prinsip saya dalam bercerita adalah, penulis harus seminim mungkin “tampil”. Karakterlah yang harus muncul di depan. Saya tidak ingin Anda membaca cerita Dee Lestari, meski nama saya ada di sampul depan. Saya ingin Anda membaca cerita karakter saya. Entah itu Zarah, Bodhi, Elektra, Alfa, Kugy, Keenan, dst. Saya ingin mereka yang berkisah kepada Anda. Bagi saya, cara deskripsi pada contoh C menciptakan jarak antara pembaca dan cerita. Saya mungkin akan menggambarkan Tiara dengan cara lain:

"Tiara mematut dirinya di cermin. Kedua pintu lemarinya terbuka dan baju-bajunya berserakan di kasur. Sudah hampir setengah jam ia bergonta-ganti pakaian. Kegiatan itu mulai melelahkan. Keringat di tepi keningnya nyaris merusak riasan yang sudah makan waktu satu jam sendiri. Semakin lama Tiara di kamar, semakin tak bersahabat lalu lintas di luar sana. Akhirnya, ia menyambar jins lusuh dengan sobekan di lutut yang dimilikinya sejak kuliah, selembar kemeja putih, seutas kalung manik, dan pashmina ungu yang dibawanya setiap hari sebagai penghangat di ruang kantornya yang sesejuk kulkas. Tiara mematut diri sekali lagi. Ia sadar diperlukan sesuatu untuk mengimbangi pilihan sederhananya. Sambil berjalan tergesa keluar kamar, Tiara meloncat dan berjingkat mengenakan sepatu hak Jimmy Choo berwarna oranye menyala."

Bagi saya, deskripsi D memiliki lebih banyak muatan aksi, indrawi, konteks, yang menjadikannya lebih kaya dari deskripsi sebelumnya. Dengan menempatkan lebih banyak aksi pada Tiara, saya tidak lagi merasa Tiara menjadi manekin penulis. Jins sobek menjadi punya sejarah, pashmina kesayangan menjadi punya alasan. Kita menjadi tahu Tiara terancam terlambat dan ia sudah menghabiskan waktu panjang demi berdandan. Saya menyelipkan satu merek hanya sebagai aksen di akhir. Kalau pun diangkat, masih tidak masalah. Karena, sekarang fokus saya lebih kepada apa yang dilakukan Tiara dan kehidupannya. Bukan apa yang dikenakannya.

Ternyata, tanpa disebutkannya Levi’s, Zara, Bin House, Marks & Spencer, cerita tidak terpengaruh. Saya malah lebih merasa dekat dengan Tiara karena saya jadi mengenal dia sebagai karakter yang lebih nyata; yang berkeringat, yang mengenakan sepatu sambil jalan, yang takut terlambat. Tanpa menghilangkan visualisasi barang-barang yang dikenakannya.

Terakhir, segala yang berlebihan dan repetitif tidaklah baik. Itu panduan general yang menurut saya berlaku dalam semua genre cerita. Merek, adalah bumbu yang harus dipergunakan hati-hati dan ditakar, jika tidak akibatnya tentu menjadi seperti advertorial.

Kekuatan penulis, pada dasarnya, akan kembali kepada seberapa lekat dan kuat ia mengikat serta menggugah pembacanya. Jangan gunakan merek sebagai tameng dari kurangnya kemampuan mendeskripsi. Jangan sampai juga merek menjadi distraksi bagi pembaca dari esensi cerita yang sesungguhnya. Terlepas genre apa pun yang kita pilih.

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Wed Mar 09, 2016 9:27 pm
by ItsIpin
Menurutku, itu sah-sah aja, tapi dalam dosis tertentu, kalau dosisnya kebanyakan malah jadi tukang iklan nanti :D :D :D

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Thu Mar 10, 2016 8:28 am
by RenPuspita
Kalau yang model2 ala Ika Natassa sih malesin abis (padahal baca juga baru 1 judul :lol: ). Seolah dia mau menggambarkan elitenya orang Jakarte, tapi cuma pake jalan pintas yaitu langsung nyebut merek

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Thu Mar 10, 2016 9:18 am
by richoiko
kalau saya sih setuju, nggak usah disebut merek-merek begitu. apalagi kalau ternyata merek yang disebut terasa sangat asing di mata saya, terlepas dari saya yang kudet atau memang bukan merek umum. bleh. hilang satu bintang rate nya huahahaha

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Thu Mar 10, 2016 11:23 am
by kopilovie
Bener sih, sebenarnya mungkin sah-sah saja, tapi harusnya sesuai dosis dan kebutuhan. Kalau terlalu banyak, jadi aneh.

Aku sempat ngobrol dengan seorang teman mengenai topik ini tempo hari. Aku cerita bahwa editorku pernah nge-cut label 'KFC' dari dalam novel yang aku tulis, kemudian menggantinya dengan 'Resto ayam goreng cepat saji'. Si teman bilang, ada hal-hal yang merknya kadang nggak bisa disamarkan atau diganti. Misalnya 'Indomie' jadi aneh kalau ditulis 'mie instan'. Kebacanya jadi kaku aja, padahal ketika membicarakan mie instan semua orang akan langsung terpikir ke Indomie meski kenyataannya ada banyak merk mie lainnya.

Dan mungkin juga, anjuran untuk tidak menyebut merk di beberapa editor bertujuan menghindari buzz label orang secara tidak langsung. :lol: entahlah. Cuma untuk genre metropop sendiri, kayaknya iya sih, merk tas dan sejenisnya seringkali disinggung demi penggambaran kehidupan elit tokohnya. :cry:

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Fri Mar 11, 2016 12:47 pm
by desty
Dulu yang nyebut2 merek gitu identik dengan metropop.
Sekarang hampir semua genre nyebutin merek ya

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Fri Mar 11, 2016 7:04 pm
by NinaRidyananda
ConRom yang kubaca sering sih sebut merk, tapi biasanya merk yang standar-standar aja dan sesuai dengan ceritanya, jadi gak melulu yang mewah-mewah. Menurutku kalo masih dalam ukuran standar (gak dikit-dikit sebut merk), gak mengganggu juga sebut merknya :D

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Sat Mar 12, 2016 4:53 pm
by Nurina Widiani
Aku lebih senang yang deskripsinya lebih ke detail indrawi, sih. Karena gampang dibayangin. Kalau nyebut merk, kadang malah harus googling dulu baru tahu gambarannya kayak gimana :lol:
Maklum gak kekinian soal merk..

*mulai beli majalah fashion*

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Sat Mar 12, 2016 10:16 pm
by Putri Utama
Kalau masih 1 atau 2 merek sih aku masih nyaman membacanya. Tapi kalau udah dikit-dikit nyebut merek, ini mau bikin cerita atau jualan yak? #eh

Re: Sebut Merek : Ganggu Atau Perlu

Posted: Sat Mar 12, 2016 10:17 pm
by Putri Utama
desty wrote:Dulu yang nyebut2 merek gitu identik dengan metropop.
Sekarang hampir semua genre nyebutin merek ya



Mbak Des... aku cuma pengen bilang. Avatarmu mengalihkan duniaku.