Kumpulan Cerpen Kompas Minggu 2016 (1)

User avatar
helvry
Pecandu Buku
Posts: 200
Joined: Sun Jan 17, 2016 10:22 pm
Location: Bandung
ID BBI: 1301041

Kumpulan Cerpen Kompas Minggu 2016 (1)

Postby helvry » Tue Mar 08, 2016 3:32 pm

Dear teman-teman penyuka cerita pendek, dalam thread ini, saya akan menampilkan cerita pendek yang dimuat dalam media cetak Kompas setiap hari minggu.

Sehubungan setiap postingan hanya dibatasi 60.000 karakter, maka saya akan memecahnya dalam beberapa postngan Selamat membaca.


1. Jangan Bangunkan Bidadari di Malam Hari
Marselli Sumarno


Spoiler:
Lelaki yang berani pulang ke kampung halaman adalah lelaki sejati. Entah dari mana peribahasa ini aku dapatkan, namun tampaknya cocok untuk diterapkan kepada Jati yang akan pulang kampung ke Salatiga untuk menjenguk ibunya yang sakit, sekalian membawa pesan yang dititipkan ketiga temannya sejak di bangku SMU: mengapa Rina mau dipersunting oleh Wagiono, guru Bahasa Indonesia mereka? Wagiono yang mendapat panggilan manis, yaitu Pak Gion, memang beruntung, namun apa lucunya Rina mau dinikahi Pak Gion? Demikian suara teman-teman Jati yang penasaran. (Tentang tiga sahabat Jati ini akan kuceritakan kemudian).
karya Ridi Winarno

Pak Gion orangnya sederhana, ke mana-mana lebih suka bersepeda. Baju favoritnya putih yang biasanya dipadukan dengan celana-celana warna gelap sehingga penampilannya mirip Joko Widodo, kepala negara kita yang kurus itu. Tutur katanya halus dan keahliannya, tentu saja ialah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun pelajaran bahasa Indonesia terasa membosankan bagi kawan-kawan Jati sekelas. Berulang kali Pak Gion menyitir ucapan penyair kondang Sapardi Djoko Damono bahwa ”sebermula adalah kata”; atau ujaran penyair kondang Rendra yang mengatakan ”pada mulanya adalah sabda”. Anehnya, kalimat-kalimat elok itu kurang mempan untuk membujuk anak didik Pak Gion yang kesemuanya telah memiliki telepon genggam agar mencintai bahasa Indonesia. Singkat cerita, mereka lebih suka berbahasa Indonesia dengan gaya mereka sendiri.

Pak Gion tak kurang akal. Dengan kepandaiannya mendongeng, ia bersusah payah mencari materi agar pelajaran yang diampunya itu menarik. Semisal ia pernah memulai pelajaran dengan mengutip larik-larik awal puisi Chairil Anwar yang berjudul ”Doa”: Tuhanku, dalam termangu, Aku masih menyebut namaMu..... Demikian Pak Gion mengucapkannya dengan penuh takzim sambil setengah memejamkan mata. Ia lalu membuka matanya dan menjelajah ke wajah para muridnya.

”Mengapa bisa orang yang termangu masih ingat tentang Tuhan?” Pak Gion bertanya dan seisi kelas menjadi riuh rendah dengan berbagai jawaban.

”Orang mabuk kali itu, Pak!”

”Justru karena sesudah mabuk, ia sadar...!”

”Saya kalau berdoa malah butuh suasana, yaitu..., seperti termangu-mangu di pinggir jurang.”

”Ha-ha-ha, asal jangan kau lantas mau bunuh diri lompat ke jurang.”

Jawaban terus bermunculan dan paling akhir Rina berujar lirih, ”Katanya, Tuhan akan berdiam di hati yang tenang.”

Pak Gion tersenyum dan membenarkan semua jawaban. Ia membahasnya satu per satu jawaban, terjadilah percakapan yang hidup di kelas. Tak lupa Pak Gion mengucapkan baris-baris penutup puisi ”Doa”: Tuhanku, di pintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling....

Dan bel berbunyi, tanda berakhirnya pelajaran. Murid-murid pun bergegas keluar tanpa berpaling lagi kepada guru mereka, kecuali Jati yang masih membenahi tasnya. Ia menjadi satu-satunya saksi hidup yang mendengar pujian Pak Gion atas jawaban Rina. Jati muda bergerak meninggalkan kelas, samar-samar percakapan Pak Gion dan Rina masih berlangsung. Ooh, Pak Gion sedang melepaskan panah-panah asmaranya.

Di mananakah Jati sekarang berada? Dia sedang duduk minum dan menyantap penganan di kantin yang sudah sepi, bahkan bersiap untuk tutup karena sekolah juga sudah bubar. Urusan menengok ibunya yang sakit telah beres, namun ternyata Pak Gion sudah dua tahun tidak mengajar lagi di SMU ini karena kontraknya sebagai guru honorer telah habis.

Menurut penuturan rekan guru yang dijumpai Jati, Pak Gion lebih memilih jadi penyuluh pertanian dan bersama keluarganya tinggal di pinggiran kota. Setelah mendengar penjelasan yang cukup, Jati menyempatkan diri mampir ke kantin dan terkenang kepada ketiga sahabatnya yang pasti sudah menunggu-nunggu kabar tentang hubungan Rina dengan Pak Gion.

Persahabatan Jati dengan ketiga sahabatnya terus berlanjut setelah mereka lulus SMU, menempuh pendidikan tinggi di tempat yang berbeda- beda, dan reuni kembali sesudah sama-sama bekerja serta hidup berkeluarga di Jakarta. Farhan yang di matanya ”semua hal bisa mendatangkan uang” kesampaian bekerja di kantor bank; Adit yang pandai berdebat menjadi pengacara perusahaan; Yoga yang semula ingin jadi pembalap motor menjadi tenang sebagai pemilik bengkel mobil yang ramai dengan pelanggan karena bengkelnya dilengkapi dengan sebuah kafe yang nyaman.

Oh, bagaimana dengan Jati sendiri? Dia cukup senang dengan jabatan editor bahasa sebuah penerbitan buku pelajaran anak-anak sekolah. Pendeknya, mereka cukup bahagia dengan hidup mereka, tetapi kecuali Jati, mereka terkadang masih penasaran kenapa Rina mau dinikahi oleh Pak Gion? Rasa penasaran itu biasanya muncul di saat mereka kumpul bersama di setiap Sabtu sore di kolam renang.

Dengan mobil carteran yang ditumpanginya, Jati tak sulit menemukan tempat tinggal pasangan Pak Gion-Rina yang menetap di pinggiran kota, menghadap ke hamparan sawah. Rumah mereka terbilang kecil dan sederhana, namun sejuk dengan banyaknya pepohonan. Salah satunya pohon nangka yang tengah berbuah, menyebarkan aroma wangi dari buah yang telah siap dipetik.

Jati sempat dibuat tertegun melihat kehidupan Pak Gion dan Rina sekarang. Rupanya Rina mengelola sanggar baca di bagian teras samping rumah. Kesibukan lain, membuat penganan rebusan untuk dijual dengan dititipkan di warung sekolah di desa mereka. Sementara Pak Gion, yang tak kunjung diangkat jadi guru tetap, memilih jadi penyuluh pertanian meski dengan honor kecil. Yang hebat, Pak Gion memiliki sawah mini, kira-kira berukuran 3 x 8 meter persegi, yang amat subur ditanami padi, dilengkapi sebuah dangau di salah satu sudutnya.

Di dangau itulah Pak Gion sedang memberikan penyuluhan kepada sejumlah petani mengenai padi yang ditanam dengan pupuk organik alias pupuk kandang bercampur humus tanaman. Sementara Jati dijamu Rina di teras rumah yang dijadikan sanggar baca anak-anak desa. ”Di sini ramainya kalau sore, setelah anak-anak pulang sekolah sampai menjelang maghrib,” ujar Rina. ”Dicicipi kacang rebusnya. Ini makanan yang bikin awet muda, tak perlu digoreng dengan minyak yang mahal...,” lanjut Rina dengan senyum lebar, memancarkan wajah yang tampak awet muda di mata Jati.

Jati pun ikut tersenyum dan mulai mencicipi kacang tanah rebus itu. ”Lain waktu, saya kirimi buku-buku bacaan anak-anak terbitan kantor saya, atau buku-buku lain yang saya dapatkan.”

”Sungguh berbahagia saya mendengarnya,” kata Rina.

Jati pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara lebih jauh dengan Rina, sebagaimana titipan pesan kawan-kawan di Jakarta, tentang kebahagiaan hidup Rina. (Mengenai jawaban-jawaban Rina tentang kebahagiaan hidupnya akan kuceritakan belakangan). Satu per satu anak-anak desa muncul untuk menyimak buku-buku dongeng yang tersedia di sanggar baca. Para petani tampak berpamitan kepada Pak Gion. Jati berdiri dan menghampiri Pak Gion yang masih di dangau, sementara Rina pelan-pelan beralih menemani anak-anak asuhnya tersebut.

”Tak ada kehidupan yang tanpa dongeng-dongeng ya...,” kata Pak Gion setelah ia memeluk Jati dan mengetahui pekerjaan Jati. Mereka tertawa bersama dan duduk berhadapan di dangau beralaskan tikar pandan. Wajah Pak Gion juga tampak awet muda, pastilah karena makanan rebusan umbi-umbian yang selalu disediakan oleh Rina. Ia terlihat rileks dengan baju batik dan kain sarung yang dikenakannya. ”Jadi ada gunanya kan dulu belajar bahasa Indonesia?”

Jati merenung sejenak. ”Berbahasa itu seperti mengenakan pakaian ya, jika diperlukan dipakailah bahasa resmi, jika sedang santai ya... pakai bahasa sehari-hari.”

”Bagus, bagus,” ucap Pak Gion sambil mengusap kain sarungnya, dan tanpa ditanya ia menjelaskan bahwa ia tidak menyesal berhenti mengajar Bahasa Indonesia. Alasannya, sudah ada guru-guru pengganti yang tidak seperti dirinya, sudah punya sertifikat mengajar. Yang membahagiakan dirinya, Rina merasa terpanggil menjadi guru bahasa walau tanpa bayaran dari anak-anak desa. Secara khusus Pak Gion menyatakan kebanggaannya pada pilihan kerja Jati di kantor penerbitan buku. ”Kata orang bijak, jika seseorang berbahasa, ia menjelaskan apa-apa yang tersembunyi, dan mungkin menyembunyikan apa-apa yang seharuskan dikatakan. Menarik kan?”

Jati manggut-manggut. ”Kalau alasan Pak Gion menjadi penyuluh pertanian?”

”Pertanyaan yang sangat bagus, Mas Jati,” jawab Pak Gion. Lalu meluncurlah cerita panjang-lebar dari Pak Gion mengenai pertanian. Ia sungguh prihatin tentang pembangunan di pedesaan yang belum menyejahterakan para petani sehingga orang-orang muda tak bergairah menjadi petani. Ia mencontohkan, begitu banyak sawah yang dijual oleh para pemiliknya dan segera beralih fungsi menjadi perumahan, perkantoran, restoran-restoran, bengkel-bengkel, dan lain-lain. ”Ketahanan pangan yang mestinya berpusat di desa-desa telah payah nggih,” ujar Pak Gion lirih. ”Akibatnya, negara kita masih harus mengimpor beras.”

”Sawah kecil milik bapak ini berfungsi sebagai apa?” tanya Jati.

Wajah Pak Gion yang sempat meredup tiba-tiba cerah kembali. Menurutnya, sawah kecil ini jadi sarana untuk penyuluhan bagi para petani. Ia mengajarkan kepada mereka agar tidak bernafsu bisa memanen padi setahun tiga atau empat kali, tentunya dengan siraman pupuk kimia, namun cukup setahun dua kali panen dan beras yang ditanak merupakan nasi yang lezat, pulen, dan syukur ditanam dengan pupuk organik sehingga laku diekspor.

Lebih lanjut, Pak Gion menjelaskan, nenek moyang kita tidak menanam padi secara serentak, dengan maksud bisa saling tolong-menolong dalam menggarap sawah orang lain dan memutus mata rantai hama wereng. Nenek moyang juga sangat menghormati Dewi Sri atau dewi padi atau dewi kesuburan, yang diwujudkan dalam berbagai sedekah bumi.

Jika padi telah berisi atau bunting, sesajinya berupa rujak buah yang diberi pemanis gula jawa. Semacam hidangan penyegar buat wanita hamil yang sedang ngidam. Semut-semut akan berdatangan dan itu mengusir berbagai hama. ”Dewi atau bidadari Sri ini tampil di berbagai tempat dengan sebutan berlainan, dan Mas Jati pasti sudah pernah dengar,” kata Pak Gion.

Pembicaraan terhenti sejenak ketika Rina muncul untuk menyuguhkan sepiring singkong rebus. ”Bagaimanapun, kita jangan hanya makan nasi, masih banyak hasil bumi lain yang mengenyangkan perut dan bikin badan sehat, seperti singkong rebus ini. Lagi pula, jangan menanak nasi di malam hari, karena itu berarti akan membangunkan bidadari Sri yang juga menjaga lumbung padi.” Pak Gion terkekeh atas omongannya sendiri. Rina berlalu sambil tersenyum. Jati ikut tersenyum dan mengikuti Pak Gion menyantap singkong rebus yang ternyata sungguh nikmat....

Hari berangsur sore, anak-anak desa itu berpamitan pulang kepada Rina. Jati segera ingat bahwa ia juga masih harus berkemas karena besok pagi-pagi akan kembali ke Jakarta. Ia lalu berpamitan, tak lupa berterima kasih atas segala ketulusan yang telah diberikan oleh Rina dan Pak Gion. Rina pun menitipkan sebungkus kacang tanah untuk oleh-oleh kawan-kawan di Jakarta, sedangkan Pak Gion menitipkan salam buat semuanya.

Di malam hari sewaktu tengah mengemasi barang-barang di rumah ibunya, Jati sempat tercenung. Titipan kacang tanah dan salam itu mudah disampaikan kepada teman-teman, tetapi cerita macam apa yang akan ia sampaikan kepada mereka? Tentang pasangan Rina-Pak Gion itu mudah dijelaskan, pikirnya. Intinya, Rina merasa sangat dikasihi oleh Pak Gion. Apa saja yang dilakukan Pak Gion, seperti kata Rina, telah membahagiakan Rina. Cerita itu bisa ditutup dengan pertanyaan kepada teman-temannya: ”Coba, apakah kita selalu berbuat untuk mengasihi pasangan kita masing-masing?”

Namun Jati masih ingat betul dongeng Pak Gion soal bidadari itu. Yang sungguh menarik, Pak Gion berpesan jangan menanak nasi di malam hari, sebab hal itu akan membangunkan bidadari yang menjaga tempat beras di rumah kita masing-masing. Bagaimana menjelaskan dongeng itu kepada teman-teman yang rata-rata perutnya sudah mulai buncit?

Jati tergoda ingin mengatakan, sebaiknya kalau di malam hari bidadari itu dielus-elus saja. Tetapi kalimat yang ia ingin ucapkan di Jakarta nanti kira-kira adalah: ”Supaya kita tidak terlalu makan kenyang di malam hari. Berhenti makan berat setelah maghrib. Coba, perut kalian rata-rata sudah seperti wanita hamil 3 bulan, bahkan sudah ada yang seperti hamil 6 bulan.”

Ia membayangkan teman-temannya akan terhibur dengan dongeng tentang sang bidadari. Tinggallah Jati tersenyum-senyum geli sendirian sambil terus mengemasi barang-barangnya.


2. Belis Si Mas Kawin
Fanny J Poyk

Spoiler:
Ketika ayah meminta Ben untuk melamarku, lelaki asal Baa, Pulau Rote, itu termangu. Wajah tampannya yang terlihat sangat maskulin itu tiba-tiba berubah menjadi begitu menyedihkan. Ayahku cemas jika terjadi apa-apa denganku. Kami sudahlima tahun pacaran, ia tidak mau di tahun berikutnya Ben tak lagi memunculkan batang hidungnya ke rumah.
Karya Geugeut Pangestu Sukandawinata
Karya Geugeut Pangestu Sukandawinata

”Sudah terlalu lama,” kata ayah. ”Apa saja yang kalian lakukan selama lima tahun itu? Sudah berapa ratus kali kalian bertukar air liur dengan berciuman? Apakah ada yang lebih dari itu? Ingat Nak, kau ini perempuan, jangan sampai kau teralienasi dari tubuhmu, tercerabut dari kerangka kewanitaanmu. Jika kau telah menyerahkan harga dirimu, maka kau akan terasing dari tubuhmu, kau hanya dianggapnya sebagai komoditi saja, komoditi untuk menyalurkan libido seksnya. Maka cepat kau panggil dia ke rumah, ayah ingin dia segera melamarmu, kalian sudah sama-sama dewasa, sudah sarjana dan sudah punya pekerjaan yang bagus jadi PNS, mau apa lagi?”

Ben kuberitahu tentang itu, tentang panggilan ayahku. Ia termenung. Di halaman rumahnya yang tidak terlalu luas, beberapa pohon lontar bergoyang perlahan. Seorang Babtua (lelaki paruh baya) yang merupakan sepupu ayahnya sedang menyadap nira, air dari buah lontar yang akan dijadikan gula lepeng, semacam gula merah yang gurih berbentuk bulat. Nira juga bisa dijadikan tuak dan sofi (minuman beralkohol) bagi para lelaki Kupang danPulau Rote khususnya. Mata Ben terlihat kosong.

”Kenapa Ben? Kau takut bertemu ayahku?” tanyaku sambil memegang pergelangan tangannya.

Ben tak berkata sepatah kata pun. Hingga aku kembali ke rumah, ia belum memberikan pernyataan apakah mau menemui ayahku atau tidak.

Apa yang dipikirkan Ben tentu saja aku tak tahu. Lelaki Rote bernama lengkap Benyamin Manu yang berasal suku Ti, salah satu suku yang ada di pulau paling selatan Indonesia ini, masih ada pertalian darah denganku. Nenekku dari pihak ayah juga bermarga Manu dari suku Ti, sedang ibuku dari suku Bilba atau tepatnya Rote Bilba. Menurut cerita ayah, ibuku masih berdarah biru, turunan raja-raja Bilba, sedang ayahku keturunan dari patih-patih yang menjadi tenaga administrasi di masa kerajaan dahulu. Pantas, dari cerita ayah pula, kakekku selalu memperoleh pekerjaan sebagai klerek di masa penjajahan Belanda. ”Kau tahu, karena kau masih berdarah biru, maka calon suamimu harus paham akan hal itu,” kata ayah selalu.

”Paham, maksudnya?”aku menatap mata ayahku.

”Kau bukan perempuan sembarangan. Perempuan Rote keturunan raja-raja Bilba jika menikah sang suami harus memberikan belis yang bernilai tinggi pula. Kau bukan gadis dari kasta rendahan,”katanya.

Ah, kini aku mengerti. Belis. Ya belis. Mas kawin atau mahar yang menjadi syarat lamaran nanti, itulah yang akan dibicarakan ayahku pada Ben. Pantas saja pria Rote itu wajahnya tampak murung. Meski zaman sudah modern, di mana era informasi teknologimerasuk dengan cepat ke otak para generasi muda dan dunia maya menjadi alat komunikasi canggih yang super cepat, belis tak lekang oleh segala gempita teknologi yang merajai dunia itu. Sedihnya jika pemaksaan berdasarkan dalih belis untuk memuluskan sebuah lembaga perkawinan terjadi, itulah yang berbahaya. Aku dan Ben tampaknya mulai mengarah ke sana. Ayah memanggil pemuda Rote asal kampung Baa itu, bukan hanya pembicaraan yang berputar lima tahun panjangnya hubungan kami, bukan. Kurasa lebih dari itu. Ayahku yang masih konvensional dengan adat-istiadatkampungnya, pasti telah merancang skenarioyang jitu yang berkaitan dengan belis.

Memikirkan itu aku termangu.Aku tidak menyalahkan budaya belis yang berlaku di sukuku, namun jikadikaitkan dengan situasi masa kini, apakah itu masih relevan? Dari kisah yang kudengar melalui famili-familiku, tak sedikit dari mereka yang memberontak dengan memilih kawin lari, nikah di catatan sipil (tidak di gereja), atau…hamil duluan sebelum menikah agar memperoleh persetujuan dari pihak perempuan. Jika benar, betapa belis telah menjadi semacam ’batu sandungan’ yang memberatkan kedua belah pihak dan para pencari cinta yang sedang kasmaran.

”Sebenarnya budaya belis itu bagus,” kata pamanku, Om Eben, sepupu ayah yang bertugas di kantor pencatatan sipil. ”Itu menandakan bagaimana tingginya harkat dan martabat seorang perempuan Rote. Kau tahu, di zaman raja-raja Ndana dulu, zaman sebelum Belanda dan Jepang menjajah negara kita, para lelakikepulauan Ndana termasuk Rote, sebelum menikah selain harus memberikan mamar (tanah perkebunan), habas (kalung emas), dan puluhan ekor kerbau, setelah menikah lelaki itu juga harus tinggal melayani keluarga sang perempuan selama berbulan-bulan sementara istrinya dibawa ke rumahnya. Setelah kesepakatan ’pengabdian’ itu selesai, ia baru boleh kembali ke rumahnya untuk berkumpul dengan istrinya. Selama menikah itu pula si lelaki harus memperhatikan keluarga istrinya, apakah mereka cukup makan dan lain sebagainya. Tanggung jawab itu berat dan itu harus dijalaninya karena ia telah mengambil anak perempuan itu untuk menjadi istrinya,”paparnya. ”Sekarang zaman sudah berubah, kadang belis tidak lagi menjadi persyaratan, yang penting cinta, kawin sudah.” Tambah Om Eben.

Ben masih membisu tatkala kuulangi sekali lagi kalau ayah ingin bertemu dengannya. ”Hei, ada apa denganmu? Apa yang kau cemaskan?” tanyaku.

Akhirnya seperti yang sudah kuduga. Ben berkata dengan sangat perlahan, ”Aku tak punya apa-apa yang akan kuberikan padamu Jublina, aku tak punya belis, aku hanya punya cinta yang tak bisa kulukiskan seberapa besarnya. Aku tidak bisa berbasa-basi. Lima tahun kebersamaan sudah kita jalani, kau tahu dalam lima tahun itu seperti apa diriku. Jika ayahmu meminta seperti apa yang dia inginkan, aku menyerah…,” katanya putus asa.

Oh Tuhan, kataku dalam hati. Bukan, ya bukan aku takut Ben tak jadi menikahiku. Tapi kesedihan yang terpancar dari wajahnya sungguh membuat aku tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mataku. Ya, aku tahu Ben tidak punya apa-apa, ia hanya memiliki tanah seluas tiga ratus meter yang ditempati oleh ayah, ibu, dan dua adiknya. Beberapa baris pohon lontar yang tumbuh di halaman rumahnya telah menjadi harta turun-temurun yang membuat ayahnya bangga. Kemudian, jika ia melamarku dan ayah serta para orang-orang tua dari keluargaku meminta belis yang diajukan melalui tawar-menawar yang dipoles dengan pantun berbalasan dalam bahasa daerahku, apa yang harus dilakukanorangtua Ben? Terlebih lagi bila orangtua dan saudara-saudara ayahnya kalah dalam berdiplomasi dengan ayahku yang memang sudah dari ’sono’-nya pandai bercakap-cakap.

”Kita kawin lari saja!” usulku.

”Apa?” Ben terkejut. ”Kau mau kita dikutuk keluarga?” katanya dengan suara meninggi.

”Lalu solusi apa yang ada padamu?”

”Nanti kupikirkan. Memang baiknya aku harus menghadap ayahmu,” katanya kemudian.

Ayahku menerima Ben dengan senyum misterius. Debur ombak Pantai Nembrala yang lamat-lamat terdengar membuat suasana kian keruh dan penuh tanda-tanya. Benmenunggu apa yang akan diucapkan ayah dan ayah menanti apa jawaban yang akan dikeluarkan pemuda lulusan Universitas Nusa Cendana jurusan ekonomiKupang yang sudah diterima sebagai PNS di Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Rote Ndao itu. Sebenarnya, jika tak ada belis, gajiku yang juga PNS di Dinas Pariwisata di pulauku inibila digabung dengan penghasilan Ben, aku rasa cukup untuk kebutuhan kami berdua. Mungkin saja kami bisa menabung jika punya anak kelak, untuk biaya pendidikan mereka.

”Sudah lima tahun kalian pacaran, itu sudah terlalu lama. Usia putriku semakin menua, masa produktif dia untuk melahirkan anak semakin menyusut. Aku minta tahun ini juga kau melamar putriku. Kalian harus menikah, tak baik pacaran berlama-lama.” Kata ayah.

”Tapi Pak, bagaimana dengan proses lamarannya? Saya….”

”Proses lamaran apa? Kan seperti yang terjadi di adat kita toh, ayah dan ibumu datang ke sini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati prosesberlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan, itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah, kita tidak main mutlak-mutlakkanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita baik ini pada orangtuamu. Yang penting kalian harus segera menikah!” ultimatum ayah.

Ben keluar dari rumahku dengan langkah sepertitentara yang kalah perang. Aku menunggunya di luar, beberapa daun lontar berkelepak tertiup angin. Malam mulai menyatu dengan deburan ombak Pantai Nembrala, pantai telah sepi, para turis yang merupakan peselancar dari Darwin, Australia, telah membawa papan-papan seluncur mereka ke cottage milik Om Pandie yang terletak di ujung timur pantai, lampu-lampu listrik berwarna kekuningan yang didesain dengan gaya etnik Rote terlihat kerlap-kerlip.

”Apakah ayah menyinggung soal belis?” tanyaku.

”Ya.”

”Lalu?”

Ben mengedikkan bahunya. ”Minggu depan aku harus menghadirkan ayah dan ibuku di rumahmu. Kami akan berhadapan dengan dua pamanmu dan juga ayah serta ibumu. Jika kita kalah mengungkapkan argumen, makaaku harus menjadi pelayan keluargamu seumur hidupku.”

”Apa? Benarkah itu?”

”Kau tak mau menjadi perawan tua bukan? Jika kemungkinan terburuk terjadi, misalnya aku tak dapat menyerahkam dua hektar mamar, satu set habas dari emas murni, dan lima puluh ekor kerbau untuk keluargamu nanti sebagai mas kawinnya, apa yang akan kau lakukan?”

”Kan sudah kau bilang aku tidak mau menjadi perawan tua, sudah juga kukatakan aku cinta kau, dan telah juga kuucapkan kita kawin lari saja. Kau sendiri yang masih cemas dengan ajakanku,” kataku.

”Oke baiklah, tunggu minggu depan, seandainya memang situasi demikian dan belis yang diajukan ayahmu mencekik lehermu, terpaksa kita kawin lari. Kita tinggalkan semua yang kita miliki, termasuk desersi dari pekerjaan kita sebagai Pegawai Negeri Sipil. Kita terbang ke tempat yang sulit untuk ditemui keluargamu, kau siap?”

Aku menganggukkan kepala.

***

Budaya dan adat-istiadat yang memang seharusnya dipertahankan itu, di satu sisi ternyata memberatkan si pelaku cinta yang sudah seharusnya menikah. Usia sudah mendekati ambang batas untuk menjalin apa yang disebut rumah tangga, ditinjau dari segi fisik, masing-masing pihak sudah siap untuk mengarunginya, untuk urusan rasa dan cinta satu sama lain apalagi, cinta kami berdua tak diragukan lagi. Lima tahun menjaga cinta itu agar tetap lestari, bukan pekerjaan mudah.

Lalu ketika berita itu datang tanpa diminta, Ben dan aku memandang Pantai Nembrala dengan diam. Hanya deburnya yang terdengar datang susul-menyusul. Di sepanjang pantai, pohon kelapa berpadu dengan pohon lontar, seolah menjadi saksi bisu tatkala Ben berkata, ”Dari hasil tawar-menawar melalui bahasa pantun yang gemulai, keluargaku hanya mengajukan dana dua puluh juta saja untuk pernikahan kita. Itu pun tanpa mamar, tanpa habas, tanpa lima puluh ekor kerbau. Yang sanggup diberikan keluargaku hanya dua puluh juta itu saja ditambah tari-tarian dan puluhan tenun ikat buatan ibuku. Selebihnya, aku hanya bisa memberikanmu cinta, Jublinaku sayang.”

”Dan ayahku, apa responsnya?”

”Dia setuju. Daripada anak perempuanku jadi perawan tua, katanya, he-he….”

”Ah kau bisa saja….”


3. Elegi Tanah Melayu
Sopianto


Spoiler:
De Hoop, pemuda jangkung blasteran Melayu-Nederland itu, berdiri penuh di pokok pohon meranti setengah abad yang tumbang digerus cako, alat berat pengeruk tanah. Hikayat tumbangnya pohon-pohon raksasa di desa kami sudah bukan berita besar yang bisa menggemparkan kantor Dewan Pejuang Rakyat.
Karya AA Gede Agung Jaya Wikrama
Karya AA Gede Agung Jaya Wikrama

Saat daging kayu seukuran dua kali pelukan orang dewasa itu mendentum seolah kiamat datang lebih awal, rumah-rumah panggong kami berjingkrak sebentar. Kasus seperti ini sudah biasa terjadi, sama halnya pejuang rakyat yang kelelahan memikirkan kemaslahatan umat sehingga tertidur di majelis sidang. Dalam pada itu, tak perlu pulalah merepotkan orang-orang berseragam karena mereka pun tak suka pula direpotkan untuk datang ke kampung pedalaman kami mengingat harga BBM yang terus naik.

”Kao dengarlahsuara itu, Boi!” suruhnya kepadaku. Alat artikulasinya bergetar ganjil. Dia mengucapkannya dengan logat Melayu beraksen Belanda selegit keju, aneh di telingaku. Aku tidak mendengar apa pun, selain siulan genit burung ketilang merayu betinanya di ranting seruk. Saat didekati, si betina menjerit manja seolah tersedak jambu mawar.

”Suare yang mane?” De Hoop terlalu sibuk untuk mengumpan balik pertanyaanku. Matanya terpejam. Telapak tangannya dilengkungkan di telinganya.

Dugaku, sangat tidak logis bagi mahasiswa pascasarjana dari negara yang amat mengedepankan logika—yang terang-terangan telah sukses membuat babak belur negeri ini tiga abad lebih—datang jauh-jauh ke pedalaman kampung udik kami hanya untuk mendengarkan rayuan gombal seekor ketilang yang bahkan kami pun tidak pernah memberikan apresiasi adil untuk ocehan burung itu. Lebih-lebih riset antropologinya tidak ada sangkut paut dengan penelitian bahasa hewan. Aku khawatir, peranakan Daendels dan bujang Sijok itu terganggu sarafnya akibat racun mariyuana. Sulit kukatakan, air menetes dari pelupuknya.

”Waarom huil je toch?” kataku dalam bahasa yang lebih ganjil, liar, dan jelas-jelas mengkhianati lidahku. Pertanyaan itu kunukil dari dialog dalam novel Kembang Jepun yang diambil dari judul lagu lawas. ”Kenapa kamu menangis?” Begitu kira-kira artinya. Sejoli ketilang berceracau mendesah. Dua makhluk itu terang-terangan beradu cinta di atas sana, tanpa peduli sedikit pun.

Sejak kecil, kami-kami ini, Urang Darat—sebutan untuk penduduk Belitong pedalaman—sudah diajarkan bagaimana mengenal alam, mengelolanya secara bijak. Kapan harus berburu pelandok, mengetahui tabiat lebah madu, meneliti hubungan antara musim hujan, buah bakung, dan memulut burung punai dengan getah karet, tetapi tak pernah kami diajarkan menagis hanya untuk sepasang ketilang yang sedang berasyik masyuk. Hal yang sedemikian itu jauh dari tabiat lelaki Melayu. Dalam pada itu aku heran dengan sikap melankolis De Hoop. Apakah peradaban modern bisa membuat seseorang menjadi demikian sensitif?

”Kucium bau tulip sejak dalam ketuban. Telah kudengar gemeretak kelompen, menyicip keju, desau kincir angin,” jeda, ”tapi suara ini...,” jeda lagi, ”baru pertama kali.”

”Tanah ini merintih...,” suaranya lindap diimpit perih. Aku menatapnya lekat-lekat. Dia balas memandangiku dalam-dalam. Pada matanya kutemukan lelaki dari kaumku berpuluh tahun lampau.

Dulu dulu sekali, ibu nenekku memiliki saudara laki-laki bernama Sarip. Menurut cerita ibu—yang beliau dengar dari nenek yang didapat dari pengakuan buyut—penampakan Sarip lebih tinggi dari lelaki Melayu kebanyakan, tegap lagi gagah. Pada usia 21 tahun dia didapuk menjadi prajurit Marechausessee, pasukan istimewa bentukan Belanda yang terdiri atas pribumi untuk menghadapi perang Aceh. Di akhir perang yang sangat mengkhianati naluri kemanusiaannya, di tahun 1910, Sarip pulang kampung dan ditugaskan menjadi penjaga mercusuar di Pulau Lengkuas.

Suatu ketika, dari ketinggian menara yang dibangun tahun 1882 itu dilihatnya seperahu mendekat. Rupa-rupanya rombongan keluarga Government Hindia Belanda dari Tanjongpandan yang hendak bertamasya. Tidak salah alamat karena Pulau Lengkuas telah masyhur eloknya. Batu-batu granit sebesar truk berhamburan seolah ditabur sekenanya dari langit, pasir putih menghampar, dan keindahan terumbu karang nan rupawan. Tapi, yang lebih indah dari sekalian itu bahwasanya dalam rombongan keluarga pejabat yang berlibur adalah seorang juffrouw, nonik Belanda. Annelis namanya. Kecantikan Pulau Lengkuas seolah hilang gravitasinya, diisap tandas sang juffrouw. Sejak kedipan pertama Sarip telah tertawan hatinya.

Apabila cinta ada di hati yang satu pasti juga cinta itu ada di hati yang lain. Demikian sepenggal syair Jalaluddin Rumi. Sarip tidak berdiri sebelah kaki. Dia jatuh hati dan Annelis juga tergila-gila kepadanya. Di luar akal memang. Tapi, hasrat tidak memandang pribumi ataupun kompeni. Hingga di suatu senja, saat angin selatan suka bertiup, saat seluit mega separuh ditelan laut, di atas menara Sarip berikrar cinta tiada gentar.

Setahu Annelis, rakyat pribumi selalu tertunduk-tunduk di haribaan kompeni. Tata krama yang ”diajarkan” penjajah selama tiga abad lebih. Namun, dengan gaya mantan prajurit maresose, hati Annelis justru tunduk dan terjajah oleh Sarip. Ia terempas takluk. Tak pernah sebelumnya ia mendengar pernyataan gagah berani dari seorang pribumi. Dan selanjutnya yang biasa terjadi terjadilah—aksi dua hati yang saling bereaksi.

Dan sebagaimana dimafhum tentang hikayat cinta yang tidak mendapat restu, kenyataan tidak adil pun diterima Sarip. Anak pribumi selalu dianggap tidak sederajat. Seminggu setelah perpisahan yang dipaksa-paksakan antara Sarip dan Annelis yang telah menyemaikan bakal janin, digoda nestapa dan dihasut durjana, Sarip menjatuhkan diri dari puncak menara. Hingga kemudian, baru kuketahui mengapa ada makam di bawah mercusuar itu.

Beratus-ratus tahun kompeni menjajah bumi pertiwi. Di pulau kecil Belitong, penjajah dari negeri yang tanahnya ditumbuhi bunga tulip namun hati orang-orangnya seperti bunga bangkai itu menjarah kekayaan bumi kami: timahnya dikuras, bijih besinya dirampok, kaolinnya dikeruk, pasir kuarsanya digerus. Panen raya kekayaan alam pulau kami diangkut ke negeri-negeri nan jauh tanpa secuil pun kami mencercap manisnya. Eksploitasi tambang besar-besaran di zaman penjajahan, ditambah era PN Timah, dilanjutkan rezim tambang konvensional oleh putra daerah sendiri, menjadikan tanah leluhur kami penyakitan. Penyakit kronis, stadium 4 barangkali.

Statistik penambangan timah di Belitong kian hari makin mengkhawatirkan. Kalau diumpamakan seloyang kue hok lo pan, seperempat wilayahnya adalah zona tambang. Jika diintip lewat jendela pesawat terbang, penampakan muka bumi di bawah tak ubahnya bidadari buruk rupa yang sedang terluka pula. Wajahnya dipenuhi kulong, lubang-lubang raksasa bekas galian. Kulong itu sendiri serupa lubang bisul yang menganga, mengeluarkan air coklat keruh kehitam-hitaman, menghancurkan segala ekosistem airnya—bahkan buaya pun seperti enggan berenang di sana. Dan lubang itu tak bisa diobati seperti halnya bisul.

”Tanah ini merintih. Jeritnya adalah elegi,” ujar De Hoop. Dia menunjuk ke suatu arah yang membuat mataku tertuju pada lubang galian yang ditinggalkan. Petambangnya diusir De Hoop dengan mengangkat parang dua hari yang lalu.

Kakekku dulu pernah mengatakan, kebijaksanaan tertinggi orang Melayu pedalaman ditandai ketika mereka bisa berkomunikasi dengan alam. Entah mengapa, diam-diam aku menaruh malu pada diriku, bahwa aku, lelaki yang dalam tubuhku jelas-jelas mengalir darah Melayu, bisa demikian lalai terhadap kondisi tanah kelahirannya. Aku teringat perdebatanku dengan De Hoop dua hari lewat setelah dia berkelahi dengan petambang timah.

”Kalau dibiarkan, bisa-bisa pulau ini tenggelam,” katanya waktu itu.

Mendengar itu, film Water World yang pernah kulihat di tivi seolah nyata. Kusaksikan generasi Belitong beratus tahun yang bakal datang hidup terapung di permukaan air. Urang Darat di kemudian hari tidak lagi memiliki daratan untuk berpijak. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada seseorang yang tidak memiliki tanah kelahiran. Tempat mengenang masa kanak-kanak, tujuan kembali dari perantauan. Dan yang lebih mengenaskan, jenazah mereka yang meninggal tidak dikuburkan, tetapi ditenggelamkan.

”Mau bagaimana?! Dari menambanglah dapur mereka mengepul. Lagi pula mereka legal. Ada surat resmi, tanda tangan orang dinas pula,” bantahku. Sebenarnya aku juga agak muskil dengan praktik kongkalikong petambang untuk mendapat cap stempel dan tanda tangan ”orang penting”. Tapi, aku selalu berbaik sangka.

”Aku yakin petambang-petambang itu akan kembali bersama aparat.”

”Sudahlah. Jangan cari pasal dengan para petambang. Bisa celaka kau nanti.

”Apa yang akan kau perbuat untuk tanah ulayatmu?” hasut De Hoop.

Lelaki jangkung itu mengarahkanku di persimpangan. Mustahil bagi De Hoop membelokkanku di dua arah pada saat yang bersamaan. Dan lebih sulit lagi baginya untuk berbelok sendiri ke kantor pejuang rakyat nan agung itu lalu mengiba kepada mereka untuk mampir ke kampung pedalaman kami, apalagi harus meminta tolong menyelesaikan perkara ini. Kami pun tahu diri kalau mereka tengah sibuk oleh perkara yang lebih penting, yaitu kemaslahatan umat.

Dalam hati aku menghibur diri telah berusaha sungguh-sungguh dan bahwa pihak berwenang juga pening memikirkan ulah petambang—yang belakangan ini tambah banyak jumlahnya karena tidak memiliki pilihan selain menambang—hanya saja mereka pening karena telanjur menerima amplop. Dan haraplah maklum jika masalah amplop dan dapur mengepul tadi memang selalu memusingkan.

”Verdome kumpeni!” umpat De Hoop. Dia menatapku sinis. Pada mata yang berkilat-kilat itu kutemukan lelaki dari kaumku berpuluh tahun lampau. Tatapan itu seakan mempertanyakan seragam dinas berwarna coklat dengan tiga balok emas di bahu yang sedang kupakai.

Dengar jerit tanah ulayatmu. Kalau dia punya mulut, dicaci-cacinya kau. Tapi itu elegi, hanya elegi. Dan aku tahu siapa yang akan dimakinya.


4. Wayang Potehi: Cinta yang Pupus
Han Gagas


Spoiler:
Ketika dalang memasukkan tangannya ke dalam kantong dan mulai menggerakkan boneka wayang, gembreng dan tambur dipukul diiringi gesekan rebab yang melengking menyayat telinga, saat itu mataku menangkap wajahmu di antara jejalan penonton.
karya Hartono

Jantungku berdegup kencang. Wajahmu berkilau dalam siluet cahaya oranye lampu panggung. Kecantikanmu yang memancar bagai berlian menghisapku begitu dalam. Rambutmu masih seperti dulu tergerai indah di bahu. Aku tak dapat melepaskan pandanganku darimu.

Suara terompet melengking tinggi. Suling menusuk gendang telinga meramaikan iringan. Lakon yang mengangkat novel See Yu Ki, Journey to The West, telah dibuka. Tokoh kera sakti bergerak lincah, meloncat ke sana-kemari. Bunyi ”trok-trok” dari Piak-kou membuat suasana jadi meriah.

Penonton bertepuk tangan.

***

Suara yang mirip ”trok-trok” dari Piak-kou selalu kita tunggu. Adalah bunyi kentongan kecil dari penjual bakmi keliling yang selalu lewat di depan kos kita, sehabis Isya. Sepulang dari shalat berjamaah di masjid samping kosmu aku duduk di beranda, menunggu kedatangannya. Dan kau selalu melakukan hal sama, membaca buku sambil menunggu.

Aku masih bersarung dan berpeci. Tak mau ganti baju, takut keburu penjual bakmi itu pergi. Masakannya yang lezat dan pedas, sayang untuk dilewatkan. Kau sendiri matamu selalu tak lepas dari bacaan itu. Menunduk membaca khusyuk. Dan saat terdengar bunyi ”trok-trok”, kau baru mengangkat kepala. Sinar lampu beranda kosmu menyirami wajahmu, guyurannya bagai sinar mentari yang menembus hujan, membuat parasmu berkilau bagai berlian.

Jantungku berdetak kencang sekali.

Kau melangkah ke depan. Sudah terlalu sering aku menahan keberanian, menunggumu selesai dimasakkan dulu. Tapi kali ini aku sudah tak tahan. Aku ingin berkenalan denganmu!

Aku lihat langkahmu jadi ragu saat aku melangkah ke luar pagar. Gerobak bakmi hampir sampai di depan kita. Tanganmu telah menyentuh pintu pagar tapi lantas terdiam. Kau menunggu di halaman. Aku menelan ludah. Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering.

Esoknya aku bersiasat. Aku menunggumu lebih dulu. Saat kau menanti bakmi pesananmu matang, aku melangkah cepat mendekat walau dengan dada berdebar tak karuan.

Penjual bakmi tersenyum. Senyum yang tak biasa. Agaknya dia tahu aku menyukaimu. Aku tak peduli, yang jelas senyum lebarnya telah melumerkan kekakuanku yang mencoba tersenyum padamu. Akhirnya, kau regangkan bibirmu, yang merekah bagai kelopak mawar yang indah. Jantungku terasa hendak copot!

Wajah cantikmu makin berkilau oleh cahaya merkuri yang menunduk di tepi jalan. Lampu itu sebagai saksi, selain penjual bakmi, untuk pertama kalinya kita saling bertatapan. Sinar matamu memancarkan keajaiban, aku merasakan energi matahari yang membuatku merasa hidup, merasa bahagia. Hatiku jadi hangat, penuh suka cita.

Untuk pertama kalinya aku melihat wajahmu dari begitu dekat. Kau berdiri di samping penjual itu, jadi hanya sejengkal saja jarak antara kita. Matamu yang sipit tampak berkejora saat kita bersitatap, seperti ada kerlip cahaya cinta di sana, cinta sejati yang mengatasi segala perbedaan. Apakah aku sedang bermimpi?

Kita, aku maksudku, harusnya berterima kasih pada penjual itu yang segera memecah perasaan canggung kita dengan banyak berseloroh, bersiul, dan bernyanyi ceria:

Inikah namanya cinta/Inikah cinta/Cinta pada jumpa pertama/Inikah rasanya cinta/Inikah cinta/Terasa bahagia saat jumpa/Dengan dirinya//

Tawa penjual itu pecah, memancing rasa jenaka di hatimu. Aku melihat bibirmu makin terbuka lebar memerlihatkan gigi-gigimu yang kecil-kecil bagai biji mentimun. Rasanya aku terbang ke surga karena mabuk oleh cinta, mabuk kebahagiaan.

”Ayo pada kenalan. Sudah pada kenal belum? Jangan malu-malu.” Tawaran penjual itu mengejutkanku. Aku jadi yakin dia tahu aku menyukaimu.

”Ayolah, kalian sudah besar-besar....” Nada suaranya jadi lucu, seperti merengek, seperti meledek, aksen Sunda yang bercampur Tionghoa.

Aku melirikmu. Kau menundukkan kepala sambil memain-mainkan ujung kaki. Wajahku terasa panas.

”Idiiih nggak perlu malu di jaman sekarang....” Aksen Tionghoa yang dibuat-buat itu makin lucu, memancing tawaku, mencairkan kebekuan nyaliku. Tak sepenuhnya sadar aku mengulurkan tangan. Saat melihatmu terdiam, aku tersentak sadar, dan ingin menarik tanganku lagi.

Tapi kuurungkan. Aku tak mau benar-benar malu di depanmu.

”Kalau tak kenalan, aku tak masak buat kalian ya!” Serunya dengan wajah separuh cengengesan.

Kami terdiam sejenak. Tanganku masih menggantung di depanmu, lalu kau pelan mengulurkan tangan. Ancaman bapak itu rupanya telah berhasil.

”Joko,” kataku dengan lidah kelu, ”Joko Sudiro...” tambahku sambil menyambut uluranmu.

”Mei Wang.” Suaramu terdengar begitu merdu, seperti gesekan biola saat tengah malam.

”Hore! Hahaha.” Tawa penjual meledak. Rasanya tak ada kesedihan di dunia ini jika melihatnya sedang tertawa.

Sehabis kenalan, semalam suntuk aku tak tidur. Perasaanku terasa hangat oleh baramu yang nyalanya abadi. Bayangkan, telah kuimpikan hal ini ribuan kali, dan akhirnya bisa terwujud. Rasanya aku telah terberkati, telah teranugerahi. Buku tulisku penuh dengan namamu. Baris demi baris, halaman demi halaman kutulis namamu sambil mengenang saat kita kenalan.

Wajah berlianmu yang tersirami cahaya oranye merkuri melekat kuat di benakku. Malam itu kulewati dengan perasaan bahagia seolah perkenalan itu menyatu dalam nyawaku. Hingga pagi menjelang, matahari telah memekarkan hatiku. Kubuka korden jendela dengan semangat pagi yang luar biasa. Aku menatapmu pergi bersama teman-temanmu ke gereja. Pagi ini ada yang beda dibanding pagi-pagi sebelumnya: aku telah mengenalmu!

”Dia pasti membuka jendela buatmu, hahaha.” Suara ledekan dari temanmu selalu membuatku malu.

”Ayolah kalian sudah kenal kan semalam,” kata temanmu yang satu lagi. Dia melirik ke arah kamarku dengan pandangan usil menggoda.

”Setiap kita berangkat dia selalu membuka jendela. Jendela hatinya buatmu, hahaha.” Tawa mereka meledak.

Kau diam saja, namun aku bisa melihat ada senyum terukir di bibirmu. Jantungku kembali berdebaran.

Malamnya, aku memberanikan diri menemuimu. Jantungku berdetak kencang saat mengetuk pintu. Dari jendela yang sedikit terbuka kulihat ada wayang golek di kamarmu.

Kau menemuiku dengan gaun panjang yang memesona. Keanggunanmu bagai peri dalam khayalan. Kecantikanmu membuatku gugup luar biasa. Kita duduk di meja beranda, diam membisu begitu lama. Saling menundukkan wajah. Tanganku tak sepenuhnya sadar mengucek-ucek taplak kain meja.

”Wayang golek?” justru itulah kata pertama yang keluar dari mulutku.

”Apa?”

”Di kamarmu.” Bodoh benar aku, telah ketahuan mengintip isi kamarmu.

Kau diam.

”Maaf...” kataku pelan.

”Bukan. Itu Wayang Potehi.”

”Potehi? Aku belum pernah melihat pertunjukannya.”

”Dilarang.”

”Dilarang?”

Kau mengangguk. Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan rezim jahat itu. Sebagai wartawan pers mahasiswa aku tahu soal diskriminasi, dan akan kutulis artikel tentang ini. Aku juga dekat dengan para aktivis pro demokrasi.

Entah masuk akal atau tidak, lusanya, setelah artikel itu tayang, saat aku hendak menunjukkannya padamu, tiba-tiba datang sebuah mobil yang menurunkan sekelompok lelaki bertubuh tegap yang langsung menyergapku!

Malam itu aku diinterogasi dengan tangan terikat. Jari-jari kakiku remuk ditindih kaki meja. Lenganku terbakar disudut api rokok. Setiap siuman pertanyaan datang dan selalu sama, ”Mana Thukul?! Mana Thukul?! Mana Wiji Thukul?!”

Aku menggeleng lemah, dan itu artinya bibirku makin pecah berdarah. Mataku terasa bengkak, nyeri, dan perih.

Untuk mengurangi rasa sakit aku selalu membayangkan wajahmu, dan menyebut lirih namamu, ”Mei Wang....” Wajahmu yang berkilau dan binar matamu meredam rasa sakit yang merajam seluruh tubuhku.

Setelah puas, aku dibawa mereka pergi.

”Otakmu kiri, kau pantas mati!”

Ancaman itu menggema di jiwaku. Suaranya seperti ribuan Malaikat Izrail yang hendak mencabut nyawaku. Nyaliku gemetar, rasanya tak ada lagi kehidupan yang membentang di hadapanku. Hatiku menggigil, sepanjang jalan. Tiba-tiba mobil berhenti. Di sebuah jembatan. Aku dikeluarkan dengan tangan masih terikat, dan diceburkan ke sungai yang penuh air.

Aku ingat. Aku ingat betul. Aku telah menyerah waktu itu.

Tapi Tuhan menyelamatkanku lewat tangan seorang pemancing. Darinya aku cukup dirawat, dan setelah membaik aku menengok kos, tentu bermaksud menemuimu.

”Beberapa lelaki mengusirnya pergi,” kata penjual bakmi.

Nada suaranya terdengar sedih. Cinta sejati yang mengatasi segala perbedaan, agama dan etnis, hancur oleh bengisnya kekuasaan yang daya bunuhnya sampai ke jantung perasaan.

Untungnya, tak sampai sebulan rezim itu tumbang. Tak akan ada orang yang menangkapku lagi. Tak akan ada orang yang mengusirmu lagi.

Aku mulai mencarimu, mencarimu ke mana saja. Cinta sejati tak memikirkan diri sendiri. Berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun aku menggelandang seperti orang gila. Bertanya ke sana kemari, dan pada akhirnya menyerah pada kenyataan: kau tak mungkin bisa ditemukan.

Dengan perasaan kalah, aku membeli wayang potehi di Kampung Pecinan. Katanya dia adalah tokoh Sin Jin Kui yang diadopsi jadi Joko Sudiro dalam lakon ketoprak. Aku membelinya karena namanya sama denganku, dan kuyakin kau pun tahu tokoh ini. Memiliki wayang potehi mengekalkan ingatanku padamu, menumbuhkan harapan yang telah pupus.

Hingga malam ini, saat akan ada pertunjukan wayang potehi, hatiku bergetar. Aku sengaja datang, berharap untuk terakhir kalinya bisa bertemu denganmu.

Aku percaya semua ini telah ditakdirkan. Tuhan memberkatiku dengan memerlihatkan berlianku. Masih tak percaya aku terus menatapmu. Dan jantungku berdebaran saat kau menyadari kehadiranku. Mata kita bersirobok. Tiba-tiba wajahmu yang berkilau tampak terbakar, air mukamu berubah pucat, seperti orang mati. Air mata jatuh dari sudut matamu, berwarna merah.

Tubuhku bergetar hebat!


5. Cerpen: Berteman Angin di Ladang Kentang
Kurnia JR


Spoiler:
Kulihat malam pada hamparan ladang kentang Dataran Tinggi dan kudapati wajah sendiri yang sunyi, mengejar jawaban atas satu hal yang tak kunjung datang. Apakah yang patut kuberikan untuk mengisi waktumu? Sepotong kisah?


Ini cerita penangkal dingin malam yang mengekang tulang-belulang pada ujung kemarau Dataran Tinggi. Harus kuperjelas aku tidak menyimpan dendam apa pun di dalam kisah yang hendak kututurkan ini. Aku hanya minta pengertianmu untuk sepenuhnya percaya pada apa yang kuungkapkan. Seluruhnya. Jika engkau skeptis atau hanya setengah percaya, berhentilah membaca.

Kau tahu-setidaknya, mungkin engkau pernah baca beritanya di koran, atau kau tonton di televisi-aku pernah membunuh seorang pengemis, atau lebih tepatnya, seseorang yang kusangka sebagai pengemis. Dan untuk itu aku harus mendekam dalam penjara bertahun-tahun dan belajar banyak tentang kebusukan yang bersarang di dalam jiwaku.

Kau tahu aku pernah tak percaya pada segala hal yang kubaca dalam Kitab Suci. Dua hal berkaitan satu sama lain: pembunuhan dan ketidakpercayaan kepada Firman Suci. Yang satu datang bersama yang lain.

Mula-mula aku memberontak terhadap vonis dan kekangan penjara. Betapapun, aku tak pernah dengan sengaja menghabisi hidup seseorang walau dalam kenyataan dua tanganku berlumuran darahnya. Lambat-laun hatiku melunak, atau melemah, melayani kemurkaan yang muncul dari sebab-akibat. Aku lebih banyak duduk menatap cahaya langit pada saat terbit matahari di jendela kecil berjeruji. Tiap subuh kubaca garis takdirku di langit ungu yang membiru pelan-pelan. Kubaca segala kelemahan dan juga kekosonganku. Kudapati pengertian bahwa tidak selalu aku bisa atau boleh memberontak, sekalipun aku tak rela menerima sesuatu. Baiklah, kuputuskan pada akhirnya, aku terima ini, Tuhan.

Tuhan pun mulai hadir setiap pagi dan petang, mengingatkan aku pada halaman-halaman kitab suci yang rajin kubaca berulang-ulang pada masa kecil. Betapapun, sulit bagi diriku untuk membangkitkan rasa percaya kepada isinya, seperti sudah kukatakan kepada kamu. Sekalipun Tuhan sendiri mungkin yang berkata di situ. Mungkin engkau ingin mencerca aku. silakan. Aku mungkin pantas dicaci, namun aku menyatakan sejujurnya, sungguh aku sudah pasrah terhadap apa pun yang akan dijatuhkan Tuhan atas diriku. Mungkin Dia hendak menyatakan bahwa aku telah menjadi Si Terkutuk yang bakal menghuni neraka jahanam.

Kudengar angin datang. Senja mulai kelam. Sementara lonceng penjara berbunyi rutin. Lalu datang subuh itu. Inilah saatnya akan kututurkan peristiwa itu, pembunuhan yang akhirnya menjebloskan aku ke bui laknat.

Pengemis itu datang seperti pesakitan yang menyibak kabut pagi. Ketika itu aku sedang menyabit rumput dekat pagar belakang rumah. Matanya merah. Wajahnya meringis. Dari kerongkongannya keluar suara seperti ternak disembelih. Ia hendak mengadukan sesuatu, mengeluhkan sesuatu, tetapi aku tak menangkap apa maksudnya. Aku hanya berpikir dia berpura-pura saja untuk mengorek iba dari hati sanubariku. Aku merasa amat marah saat itu karena merasa sedang dipermainkan.

"Kamu mau apa?" aku menyergah dengan tak sabar. Sungguh, aku heran, sepagi itu sudah datang pengemis yang memainkan mimik muka yang menjengkelkan.

Ia tak menyahut, cuma mengerang-erang seakan-akan mengalami kesulitan mengucapkan kata-kata, yang hanya menambah kejengkelanku. "Ah, pura-pura bisu."

Dia beringsut mendekat tanpa kusadari. Detik itu aku menyesal membiarkan pintu pagar terbuka sehingga dia leluasa masuk begitu saja. Dalam sekejap mata, sekonyong-konyong ia membungkuk dalam gerakan seperti hendak merebut sabit dari tanganku. Aku kaget setengah mati dan dengan gerak refleks mengayunkan sabit itu ke lehernya.

Kurang dari sedetik, aku sudah menyaksikan tubuh itu terkapar berlumuran darah dengan leher nyaris putus, menggelepar seperti hewan disembelih, dengan suara nan mengerikan keluar dari tenggorokan yang basah kuyup oleh cairan kental merah kehitam-hitaman dan cerah menyala sekaligus. Sinar matahari pagi terpantul aneh dari kubangan merah yang terbentuk cepat di rerumputan.

Aku terpana dengan sabit yang terasa sangat berat di tangan. Bilah landepnya meneteskan darah terus-menerus. Sekejap kurasakan matahari tiba-tiba sudah di atas kepala meneriaki aku dengan teriknya atau dengan murkanya. Lalu kusaksikan diriku digelandang banyak orang. Polisi berupaya keras menyelamatkan aku dari amukan buas massa yang marah.

Aku tak ingat persis detik demi detiknya. Tahu-tahu, aku sudah melongo di dalam sel penjara. Mungkin sebaiknya begitu. Aku akan lebih tersiksa jika drama berjalan lamban. Selekasnya aku menjalani proses pertanggungjawaban mungkin lebih baik. Satu-satunya yang ingin kualami adalah kepalaku hancur dan menjadi jasad renik yang diorak angin musim kemarau atau dilumat lumpur musim hujan. Aku tak kuasa menyanggah tuntutan dengan kilah bahwa aku membela diri.

Aku tak menghitung hari-hari yang berlalu. Yang sempat memukul jiwaku adalah cerita anak sang korban. Di layar TV anak itu, duduk di sisi ibunya yang rapuh dan bungkuk, menuturkan kepada wartawan bahwa ayahnya memang bisu dan pada pagi yang nahas itu sedang berkeliling mencari pertolongan demi anak terkecil yang demam tinggi. Ia juga menegaskan bahwa ayahnya bukan pengemis, hanya bekerja serabutan. Apa saja bisa dia kerjakan sehari-harinya demi keluarganya.

Bagai film yang diputar dalam gerak lambat, aku mengingat-ingat kembali gerakan orang bisu itu dengan penafsiran baru. Ya, matanya memang tak memancarkan niat membunuh saat tangannya seperti terayun ke arah sabit di tanganku. Bahkan gerak tangan itu lemah!

Mungkin ia ingin menyabitkan rumput untuk aku. Suaraku bersipongang di dalam kepala. Aku terkejut sendiri mendengar gemanya di rongga tengkorak. Seperti tertimpa langit runtuh, aku ditimbun penyesalan yang luar biasa dan kehilangan harapan hidup. Aku yang pernah bercita-cita menjadi juru bimbing umat kala remaja dan akrab dengan kitab suci, kini mendapati diri sebagai manusia laknat yang sangat keji, yang bahkan tidak pernah terbayangkan sekilas pun. Siapa yang menjerumuskan aku? Diriku sendiri? Setan Si Laknat? Atau Tuhan Yang Mahakuasa? Oh. Terkutuk aku jika mendakwa Tuhan atas dosaku! Tetapi!

Andaikan si bisu tak pernah datang menemui aku. Andaikan pagi itu aku tak di rumah dan kalaupun di rumah tak menyabit rumput di halaman. Andaikan kesalahpahaman tak terjadi. Andaikan orang itu atau aku tak pernah ada. Andaikan..

Kenapa orang bisu itu datang pada saat aku memegang sabit? Mengapa ajalnya diserahkan ke bilah tajam di tanganku? Seharusnyakah aku yang menjadi penyebab kematiannya? Menjadi pembunuhnya? Siapa pula yang dalam hidupnya pernah berangan-angan atau bercita-cita jadi pembunuh? Seketika aku telah menjadi pendosa yang dihujat semua orang.

Sel penjara terasa lebih gelap menyesakkan daripada sebelumnya. Sejak itu matahari tak lagi mampu menembus celah-celah jeruji jendela. Tembok penjara menjadi lebih tebal daripada sebelumnya. Aku terbanting-banting ombak samudra di batinku yang tak ramah. Demikianlah masa tahanan panjang kujalani. Hatiku mengeras lebih dari batu.

Tahun-tahun akhirnya berlalu dan aku bebas. Aku bebas setelah aku nyaris lupa dunia bebas itu seperti apa dan bagaimana mengisi kebebasan itu. Aku telah kehilangan banyak hal: rasa nyaman dan tenteram yang enak, pekerjaan, lingkungan yang ramah, dan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah terpikirkan dalam benakmu.

Pagi datang membawa hawa dingin yang sangat kuat. Dataran Tinggi ini membentang sunyi. Kabut masih menyelimuti ladang kentang yang menutupi bukit dan lembah. Aku merapatkan jaket lusuh ke tubuh. Sebentar lagi matahari menghadiahi bumi dengan sinar yang cemerlang. Angin nyaris membekukan wajah dan mengusap-usap rambut, namun hatiku tak terpengaruh.

Secara perlahan aku mulai berpikir lagi tentang rasa terluka. Kini aku dapat memahami satu hal: rasa pedih hanya dapat kuredakan dengan menghalau segenap penyesalan tentang masa lalu dan apa pun yang telah terjadi dan membekas sebagai sekadar kenangan.
Helvry Sinaga | http://blogbukuhelvry.blogspot.co.id
Powered by Don't worry

Return to “Puisi, Drama/Teater & Cerpen”

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest